Iwan Kuswandi
Abstrak:
Belajar merupakan suatu hal yang banyak
dibicarakan di dalam al-Qur’an dan al-Hadith. Bahkan di dalam ajaran Islam
diyakini bahwasanya, orang yang belajar akan memiliki ilmu yang nantinya akan
berguna untuk kepentingan hidup di dunia, serta bekal untuk keberhasilan hidup
di akhirat kelak. Dalam dunia belajar-mengajar, tentunya tidak bisa dilepaskan
dari dua unsur penting, yaitu pendidik dan anak didik. Para pakar pendidikan
Islam sepakat bahwa titik tekan pendidikan prioritas yang diberikan kepada anak
didik adalah pendidikan agama dan akhlak. Karena demi suksesi pendidikan akhlak
inilah, maka pendidik, mau tidak mau, harus member contoh akhlak yang baik
pula, agar bisa diteladani oleh anak didiknya.
A.
Pendahuluan
Agama Islam sangat menganjurkan kepada manusia untuk
selalu belajar. Bahkan Islam mewajibkan kepada setiap orang yang beriman untuk
belajar. Dalam Islam pendidikan tidak hanya dilaksanakan dalam batasan waktu
tertentu saja, melainkan dilakukan sepanjang usia (long life education). Ini sesuai dengan salah satu sabda yang
disampaikan oleh panutan orang Islam, Nabi Muhammad SAW, “Carilah ilmu sejak dalam buaian hingga ke liang lahat”.
Islam memotivasi pemeluknya untuk selalu meningkatkan
kualitas keilmuan dan pengetahuan. Tua atau muda, pria atau wanita, miskin atau
kaya mendapatkan porsi sama dalam pandangan Islam dalam kewajiban untuk
menuntut ilmu (pendidikan). Bukan hanya pengetahuan yang terkait urusan akhirat
saja yang ditekankan oleh Islam, melainkan pengetahuan yang terkait dengan
urusan dunia juga. Karena tidak mungkin manusia mencapai kebahagiaan hari kelak
tanpa melalui jalan kehidupan dunia ini.
Bahkan menurut Imam Syafi’ie, ilmu adalah kunci penting
untuk urusan dunia dan akhirat. Sebagaimana perkataan Imam Syafi’ie, yaitu; “Barangsiapa menginginkan dunia, maka harus
dengan ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat, maka harus dengan ilmu. Dan
barangsiapa menginginkan keduanya, maka harus dengan ilmu”.
Islam menghendaki pengetahuan yang
benar-benar dapat membantu mencapai kemakmuran dan kesejahteraan hidup manusia.
Yaitu pengetahuan terkait urusan dunia dan akhirat, yang dapat menjamin
kemakmuran dan kesejahteraan hidup manusia di dunia dan akhirat. Pengetahuan
duniawi adalah berbagai pengetahuan yang berhubungan dengan urusan kehidupan
manusia di dunia ini. Baik pengetahuan modern maupun pengetahuan klasik. Atau
lumrahnya disebut dengan pengetahuan umum.
Sedangkan pengetahuan ukhrowi adalah
berbagai pengetahuan yang mendukung terciptanya kemakmuran dan kesejahteraan
hidup manusia kelak di akhirat. Pengetahuan ini meliputi berbagai pengetahuan
tentang perbaikan pola perilaku manusia, yang meliputi pola interaksi manusia
dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Atau biasa
disebut dengan pengetahuan agama.
Pengetahuan umum (duniawi) tidak
dapat diabaikan begitu saja, karena sulit bagi manusia untuk mencapai
kebahagiaan hari kelak tanpa melalui kehidupan dunia ini yang mana dalam
menjalani kehidupan dunia ini pun harus mengetahui ilmunya. Demikian halnya
dengan pengetahuan agama (ukhrowi), manusia tanpa pengetahuan agama niscaya
kehidupannya akan menjadi hampa tanpa tujuan. Karena kebahagiaan di dunia akan
menjadi sia-sia ketika kelak di akhirat menjadi nista. Islam selalu mengajarkan
agar manusia menjaga keseimbangan, baik keseimbangan dhohir maupun bathin,
keseimbangan dunia dan akhirat. Dalam Qs. Al-Mulk ayat 3 disebutkan:
“Yang telah menciptakan tujuh langit
berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha
Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang! Adakah kamu
lihat sesuatu yang tidak seimbang?”.
Lebih jelasnya, akan diuraikan dalam makalah ini
tentang belajar dalam pandangan al-Qur’an dan al-Hadith, unsur-unsur belajar
dan konsep belajar menurut para pakar pendidikan Islam.
B.
Pembahasan
1. Belajar dalam pandangan Al-Qur'an dan al-Hadith
Secara rasional semua ilmu pengetahuan dapat diperoleh
melalui belajar. Maka, belajar adalah ”key term” (istilah kunci) yang paling
vital dalam usaha pendidikan. Sehingga, tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah
ada pendidikan.[1] Kemampuan
untuk belajar merupakan sebuah karunia Allah yang mampu membedakan manusia
dangan makhluk yang lain. Allah menghadiahkan akal kepada manusia untuk mampu
belajar dan menjadi pemimpin di dunia ini.
Sebelum membahas lebih jauh tentang apa yang dimaksud
dengan teori belajar dalam perspektif Islam. Maka menarik kiranya, bahkan
dianggap perlu sekali untuk mengetahui akan makna tentang teori belajar terlebih
dahulu. Teori adalah seperangkat konsep, asumsi, dan generalisasi yang dapat
digunakan untuk mengungkapkan dan menjelaskan perilaku dalam berbagai
organisasi.[2] Belajar
adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan
interaksi dengan lingkungannya.[3]
Maka teori belajar dapat dipahami sebagai kumpulan
prinsip umum yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah
fakta dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar. Jadi, teori belajar
dalam Islam artinya kumpulan penjelasan tentang prinsip-prinsip yang berkaitan
dengan peristiwa belajar yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadith serta
khazanah pemikiran intelektual Islam.
Pendapat yang mengatakan bahwa belajar sebagai
aktifitas yang tidak dapat dipisah dari kehidupan manusia, ternyata bukan
berasal dari hasil renungan manusia semata. Ajaran agama sebagai pedoman hidup
manusia juga menganjurkan manusia untuk selalu malakukan kegiatan belajar.
Dalam AlQur’an, kata al-ilm dan
turunannya berulang sebanyak 780 kali. Seperti yang termaktub dalam wahyu yang
pertama turun kepada baginda Rasulullah SAW yakni Al-‘Alaq ayat 1-5.
Ayat ini menjadi bukti bahwa al-Qur’an memandang bahwa
aktifitas belajar merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan
manusia. Kegiatan belajar dapat berupa menyampaikan, menelaah, mencari, dan
mengkaji, serta meneliti. Selain al-Qur’an, al-Hadith juga banyak menerangkan
tentang pentingnya menuntut ilmu. Misalnya beberapa hadist berikut ini, “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim;
carilah ilmu sejak dalam buaian hingga ke liang lahat; para ulama itu pewaris
Nabi; pada hari kiamat ditimbanglah tinta ulama dengan dara syuhada, maka tinta
ulama dilebihkan dari ulama”
Belajar memiliki tiga
arti penting menurut Al-Qur’an. Pertama,
bahwa orang yang belajar akan mendapatkan ilmu yang dapa digunakan untuk
memecahkan segala masalah yang dihadapinya di kehidupan dunia. Kedua, manusia dapat mengetahui dan
memahami apa yang dilakukannya karena Allah sangat membenci orang yang tidak
memiliki pengetahuan akan apa yang dilakukannya karena setiap apa yang
diperbuat akan dimintai pertanggungjawabannya. Ketiga, dengan ilmu yang dimilikinya, mampu mengangkat derajatnya
di mata Allah.[4]
Belajar merupakan
kebutuhan dan berperan penting dalam kehidupan manusia. Hal ini disebabkan
manusia terlahir tidak mengetahui apa-apa, ia hanya dibekali potensi jasmaniah
dan rohaniah (QS. An-Nahl:78). Maka sangat beralasan jika mengapa dan bagaimana
manusia itu dipengaruhi oleh bagaimana ia belajar.[5]
2.
Unsur-unsur belajar
Sebagaimana penjelasan di dalam
surat al-Alaq (1-5), bahwa proses belajar mengajar itu tidak lepas dari dua
komponen penting, yaitu membaca dan menulis. Perintah pertama kali yang
dikemukakan Allah Swt untuk manusia adalah ‘’Iqra’’.
Di dalam bahasa Arab, Iqra berarti
perintah membaca ‘’bacalah’’.
Menurut Quraish Shihab, wahyu
pertama itu tidak menjelaskan apa yang dibaca, karena al-Qur’an menghendaki
umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut bismi Rabbik, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah,
ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, tanda–tanda sejarah, diri sendiri,
yang tertulis maupun tidak. Dengan kata lain obyek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat
dijangkau.
Pengulangan perintah membaca dalam
wahyu pertama ini bukan sekedar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak akan
diperoleh kecuali mengulang-ngulang bacaan atau membaca hendaknya dilakukan
sampai mencapai batas maksimal kemampuan. Tetapi hal itu mengisyaratkan
mengulang-ulang bacaan bismi Robbik
akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru.[6]
Membaca dalam tradisi Arab merupakan
pintu pengetahun pertama untuk mendapatkan ilmu dan informasi. Di dalam
al-Qur’an, Allah Swt menjelaskan, (QS. Al-Isra’ (17:36). Sesungguhnya pendengaran,
penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. Di
sini, Allah Saw mendahulukan ‘’telingga’’ sebagai sarana untuk mendengar semua
informasi. Berarti di dalam proses belajar mengajar, seorang murid (peserta
didik) diharuskan hadir di dalam kelas, memasang telingga lebar-lebar. Agar
supaya semua ilmu dan informasi yang di dengar bisa di simpan di dalam otak
dengan baik dan sempurna. Selanjutnya, menggunakan ‘’mata’’ untuk melihat
melihat dan tangan untuk mencatat setiap apa yang disampaikan oleh guru.[7]
Pendidikan merupakan sarana atau
media yang akan menghantarkan manusia pada tujuan. Sedangkan, pendidikan
sendiri dalam prosesnya memerlukan alat, yaitu proses pengajaran atau ta’lim.[8]
Setidaknya ada dua unsur utama dalam proses belajar mengajar atau pendidikan,
yang memainkan peran sebagai organisme yang akan berproses dan pembimbing atau
pengarah. Dua unsur tersebut lebih dikenal dengan sebutan “peserta didik” dan
“guru” (pendidik).[9]
Namun belajar menurut Robert Gagne,
merupakan sebuah sistem yang di dalamnya terdapat berbagai unsur yang saling terkait
sehingga menghasilkan perubahan perilaku. Beberapa unsur dimaksud adalah
sebagai berikut:
a). Pembelajar
Pembelajar dapat berupa peserta
didik, pembelajar, warga belajar, dan peserta latihan.
b). Rangsangan (stimulus)
Peristiwa yang merangsang
penginderaan pembelajaran disebut situasi stimulus. Agar pembelajar mampu
belajar optimal, ia harus memfokuskan pada stimulus tertentu yang diminati.
c). Memori
Memori pembelajar berisi berbagai kemampuan
yang berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dihasilkan dari aktivitas
belajar sebelumnya.
d). Respon
Tindakan yang dihasilkan dari
aktualisasi memori disebut respon. Pembelajar yang sedang mengamati stimulus,
maka memori yang ada di dalam dirinya kemudian memberikan respon terhadap
stimulus tersebut.[10]
3.
Konsep belajar menurut
para pakar pendidikan Islam
Beberapa tokoh yang dipilih dalam makalah ini
merupakan beberapa ulama yang mempunyai andil dan konsep dalam dunia
pendidikan. Pada abad klasik seperti Ibn Maskawaih, Al-Qabisi, Al-Mawardi, Ibn
Sina, dan al-Ghazali. Sedangkan tokoh yang berasal dari abad pertengahan diwakili
oleh Burhanuddin az-Zarnuji.
Hal ini memang belum mewakili seluruh tokoh
pendidikan Islam secara keseluruhan, karena pertimbangan kesulitan
mengklasifikasikan ulama terdahulu yang multidisipliner dalam bidang pakar
keilmuan. Di samping itu, ulasan tentang konsep dan pemikiran dalam konteks
pendidikan yang diuraikan oleh beberapa tokoh di atas, tidak begitu detail
dalam makalah ini, karena adanya keterbatasan ruang dan waktu.
a.
Ibn
Maskawaih
Titik tekan pemikiran Ibn Maskawaih
dalam bidang akhlak termasuk salah satu yang mendasari konsepnya dalam bidang
pendidikan. Tujuan pendidikan akhlak yang dirumuskan Ibn Maskawaih adalah
terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan
semua perbuatan yang terpuji, sehingga mencapai kesempurnaan dan memperoleh
kebahagiaan hidup.
Kedua aspek dalam dunia pendidikan
(pendidik dan anak didik), hubungan keduanya menjadi perhatian khusus Ibn
Maskawaih. Menurutnya, kecintaan anak didik ke gurunya harus melebihi kecintaan
terhadap orang tuanya sendiri. Kecintaan anak didik terhadap gurunya disamakan
dengan kecintaan terhadap tuhannya. Namun karena kecintaan terhadap tuhan tidak
boleh disamakan dengan yang lain, maka kecintaan murid terhadap gurunya berada
di antara kecintaan terhadap orang tua dan kecintaan terhadap tuhannya.
Menurut keyakinan Ibn Maskawaih,
bahwasanya akhlak seseorang itu tidaklah merupakan bawaan atau warisan dari
kedua orang tuanya. Untuk itu, pendidikan yang diajarkan oleh seorang guru
dapat menjadikan anak berakhlak mulia. Terdapat beberapa metode yang diajukan
oleh Ibn Maskawaih dalam mencapai akhlak yang baik. Pertama, adanya kemauan
yang sungguh-sungguh untuk berlatih terus-menerus dan menahan diri untuk
memperoleh keutamaan dan kesopanan yang sebenarnya. Kedua, dengan menjadikan
semua pengetahuan dan pengalaman orang lain yang baik dan luhur sebagai cermin
bagi dirinya. [11]
b.
Al-Qabisi
Al-Qabisi memiliki perhatian yang
besar terhadap pendidikan anak-anak. Menurutnya bahwa mendidik anak-anak
merupakan upaya amat strategis dalam rangka menjaga keberlangsungan bangsa dan
negara. Oleh karena itu, pendidikan anak harus dilaksanakan dengan penuh
kesungguhan dan ketekunan yang tinggi. Al-Qabisi juga menghendaki agar
pendidikan dan pengajaran dapat menumbuhkembangkan pribadi anak sesuai dengan
nilai-nilai Islam yang benar.
Untuk itu, Al-Qabisi membagi
kurikulum ke dalam dua bagian. Pertama, kurikulum ijbari. Kurikulum ini berisi
tentang kandungan yang berhubungan dengan al-Qur’an. Kedua, kurikulum
ikhtiyari. Kurikulum ini berisi ilmu hitung dan seluruh ilmu nahwu, bahasa
Arab, sya’ir, kisah-kisah masyarakat
Arab, sejarah Islam dan lain sebagainya.
Selain membicarakan kurikulum,
Al-Qabisi juga berbicara tentang metode dan teknik mempelajari mata pelajaran
yang terdapat dalam kurikulum itu. Ia misalnya telah berbicara mengenai teknik
dan langkah-langkah menghafal al-Qur’an dan belajar menulis. Bahkan menurutnya,
seorang pelajar itu membutuhkan istirahat siang hari. Hal ini sesuai dengan
konsep pendidikan modern yang memberikan waktu istirahat sebagai waktu yang
amat penting untuk menyegarkan kemampuan berpikir seseorang.[12]
c.
Al-Mawardi
Pemikiran Al-Mawardi dalam bidang
pendidikan sebagian besar terkonsentrasi pada masalah etika hubungan murid
dalam proses belajar mengajar. Al-Mawardi memandang penting seorang guru
memiliki sikap tawadlu’ (rendah hati) serta menjauhi sikap ujub (besar kepala).
Menurutnya, sikap tawadlu’ akan menimbulkan simpatik dari para anak didik,
sedangkan sikap ujub akan menyebabkan guru tidak disenangi.
Al-Mawardi melarang seseorang
mengajar dan mendidik atas dasar motif ekonomi. Akan tetapi menurutnya, seorang
guru seharusnya selalu memiliki keikhlasan dan kesadaran akan pentingnya tugas,
sehingga dengan kesadaran tersebut, ia akan terdorong untuk mencapai hasil yang
maksimal.[13]
d.
Ibn
Sina
Tujuan pendidikan menurut Ibn Sina
harus diarahkan kepada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang kea
rah perkembangannya yang sempurna, yaitu perkembangan fisik, intelektual dan
budi pekerti. Ibn Sina mengatakan bahwa guru yang baik adalah guru yang berakal
cerdas, beragama, mengetahui cara mendidik akhlak, cakap dalam mendidik anak,
berpenampilan tenang, jauh dari berolok-olok dan main-main di hadapan muridnya,
tidak bermuka musam, sopan santun, bersih dan suci murni.
Cara mengajar menurut Ibn Sina,
yaitu dengan metode talqin. Metode ini biasanya digunakan untuk mengajarkan
membaca al-Qur’an. Cara seperti ini dalam ilmu pendidikan modern dikenal dengan
nama tutor sebaya, sebagaimana dikenal dalam pengajaran dengan modul.[14]
e. Al-Ghazali
Dalam pemahaman al-Ghazali,
pendekatan belajar dalam mencari ilmu dapat dilakukan dengan melakukan dua
pendekatan, yakni ta’lim insani dan ta’lim rabbani. Ta’lim insani adalah belajar dengan bimbingan manusia. Pendekatan
ini merupakan hal yang lazim dilakukani oleh manusia dan biasanya menggunakan
alat indrawi yang diakui oleh orang yang berakal. Menurut Al-Ghazali, dalam
proses belajar mengajar sebenarnya terjadi eksplorasi pengetahuan sehingga
menghasilkan perubahan-perubahan perilaku.[15]
Titik tekan pendidikan menurut
al-Ghazali terletak pada pendidikan agama dan moral. Untuk itu, syarat menjadi
guru menurut al-Ghazali, selain cerdas dan sempurna akalnya, juga guru yang
baik akhlaknya dan kuat fisiknya. Dengan kesempurnaan akal ia dapat memiliki
berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam, dan dengan akhlaknya yang baik ia
dapat menjadi contoh dan teladan bagi para muridnya, dan dengan kuat fisiknya
ia dapat melaksanakan tugas mengajar, mendidik dan mengarahkan anak-anak
muridnya.[16]
e.
Al-Zarnuji
Menurut al-Zarnuji, belajar bernilai
ibadah dan mengantarkan seseorang untuk memperoleh kebahagiaan duniawi dan
ukhrawi. Karenanya, belajar harus diniati untuk mencari ridha Allah,
kebahagiaan akhirat, mengembangkan dan melestarikan Islam, mensyukuri nikmat
akal, dan menghilangkan kebodohan. Dimensi duniawi yang dimaksud adalah sejalan
dengan konsep pemikiran para ahli pendidikan, yakni menekankan bahwa proses
belajar-mengajar hendaknya mampu menghasilkan ilmu yang berupa kemampuan pada
tiga ranah yang menjadi tujuan pendidikan/ pembelajaran, baik ranah kognitif,
afektif, maupun psikomotorik.
Adapun dimensi ukhrawi, Al-Zarnuji
menekankan agar belajar adalah proses untuk mendapat ilmu, hendaknya diniati
untuk beribadah. Artinya, belajar sebagai manifestasi perwujudan rasa syukur
manusia sebagai seorang hamba kepada Allah SWT yang telah mengaruniakan akal.
Lebih dari itu, hasil dari proses belajar-mengajar yang berupa ilmu (kemampuan
dalam tiga ranah tersebut), hendaknya dapat diamalkan dan dimanfaatkan sebaik
mungkin untuk kemaslahatan diri dan manusia. Buah ilmu adalah amal. Pengamalan
serta pemanfaatan ilmu hendaknya dalam koridor keridhaan Allah, yakni untuk
mengembangkan dan melestarikan agama Islam dan menghilangkan kebodohan, baik
pada dirinya maupun orang lain. Inilah buah dari ilmu yang menurut al-Zarnuji
akan dapat menghantarkan kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat kelak.
Dalam konteks ini, para pakar
pendidikan Islam termasuk al-Zarnuji mengatakan bahwa para guru harus memiliki
perangai yang terpuji. Guru disyaratkan memiliki sifat wara’ (meninggalkan
hal-hal yang terlarang), memiliki kompetensi (kemampuan) dibanding muridnya, dan
berumur (lebih tua usianya). Di samping itu, al-Zarnuji menekankan pada
“kedewasaan” (baik ilmu maupun umur) seorang guru. Hal ini senada dengan
pernyataan Abu Hanifah ketika bertemu Hammad, seraya berkata: “Aku dapati
Hammad sudah tua, berwibawa, santun, dan penyabar. Maka aku menetap di
sampingnya, dan akupun tumbuh dan berkembang.[17]
C.
Kesimpulan
Dari deskripsi singkat di atas, dapat dipahami bahwa Islam
benar-benar memperhatikan pentingnya ilmu pengetahuan serta urgensi mempelajari
ilmu pengetahuan tersebut. Hal ini banyak dibicarakan di dalam al-Qur’an dan
al-Hadith. Bahkan di dalam ajaran Islam diyakini bahwasanya, orang yang belajar
akan memiliki ilmu yang nantinya akan berguna untuk kepentingan hidup di dunia,
serta bekal untuk keberhasilan hidup di akhirat kelak.
Dalam dunia belajar-mengajar, tentunya tidak bisa
dilepaskan dari dua unsur penting, yaitu pendidik dan anak didik. Para pakar
pendidikan Islam sepakat bahwa titik tekan pendidikan prioritas yang diberikan
kepada anak didik adalah pendidikan agama dan akhlak. Karena demi suksesi
pendidikan akhlak inilah, maka pendidik, mau tidak mau, harus member contoh
akhlak yang baik pula, agar bisa diteladani oleh anak didiknya.
DAFTAR
PUSTAKA
Berkson ,William
& Wettersten, John.2003. Psikologi
Belajar dan Filsafat Ilmu Karl Popper. Terjemahan oleh Ali Noer Zaman. Yogyakarta:
Qalam.
Nata, Abuddin.2000. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Rusn, Abidin Ibnu. 2009. Pemikiran al-Ghazali tentang Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Syah, Muhibbin.2004.
Psikologi Belajar. Jakarta: PT.
RajaGrafindo Persada.
Sugiyono.1994. Metode Penelitian Adminstrasi. Bandung:
Alfabeta.
Umiarso & Zamroni.2011. Pendidikan Pembesan dalam Perspektif Barat dan Timur. Yogyakarta:
AR-RUZZ MEDIA.
http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/10/model-ideal-belajar-menurut-al-qur’an.
[1]
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar
(Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2004), Cet.3, hlm.59.
[2]
Sugiyono, Metode Penelitian
Adminstrasi (Bandung: Alfabeta, 1994), cet. 11, hlm. 55.
[3]
Muhibbin Syah, Psikologi
Belajar (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2004), Cet.3, hlm. 68
[5]
William Berkson, John
Wettersten, Psikologi Belajar dan Filsafat Ilmu Karl Popper. Terjemahan oleh
Ali Noer Zaman (Yogyakarta: Qalam, 2003), hlm.v.
[7]
http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/10/model-ideal-belajar-menurut-al-qur’an.
[8]
Abidin Ibnu Rusn. 2009. Pemikiran
al-Ghazali tentang Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hlm 61
[9]
Umiarso & Zamroni. Pendidikan Pembesan dalam Perspektif Barat dan Timur
(Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2011) Hlm. 82
[11]
Abuddin Nata. Pemikiran Para Tokoh
Pendidikan Islam. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000) hlm. 6-23
[12]
Ibid, hlm 26-34
[13]
Ibid. hlm 49-53
[14]
Ibid, hlm 67-77
[16]
Abuddin Nata. Ibid hlm 94-96
Makasih KK' ilmunya semoga lebih bermanfaat
BalasHapus