Sabtu, 14 Juli 2012

BELAJAR DALAM PERSPEKTIF ISLAM


Iwan Kuswandi

Abstrak:
Belajar merupakan suatu hal yang banyak dibicarakan di dalam al-Qur’an dan al-Hadith. Bahkan di dalam ajaran Islam diyakini bahwasanya, orang yang belajar akan memiliki ilmu yang nantinya akan berguna untuk kepentingan hidup di dunia, serta bekal untuk keberhasilan hidup di akhirat kelak. Dalam dunia belajar-mengajar, tentunya tidak bisa dilepaskan dari dua unsur penting, yaitu pendidik dan anak didik. Para pakar pendidikan Islam sepakat bahwa titik tekan pendidikan prioritas yang diberikan kepada anak didik adalah pendidikan agama dan akhlak. Karena demi suksesi pendidikan akhlak inilah, maka pendidik, mau tidak mau, harus member contoh akhlak yang baik pula, agar bisa diteladani oleh anak didiknya.

A.     Pendahuluan
Agama Islam sangat menganjurkan kepada manusia untuk selalu belajar. Bahkan Islam mewajibkan kepada setiap orang yang beriman untuk belajar. Dalam Islam pendidikan tidak hanya dilaksanakan dalam batasan waktu tertentu saja, melainkan dilakukan sepanjang usia (long life education). Ini sesuai dengan salah satu sabda yang disampaikan oleh panutan orang Islam, Nabi Muhammad SAW, “Carilah ilmu sejak dalam buaian hingga ke liang lahat”.
Islam memotivasi pemeluknya untuk selalu meningkatkan kualitas keilmuan dan pengetahuan. Tua atau muda, pria atau wanita, miskin atau kaya mendapatkan porsi sama dalam pandangan Islam dalam kewajiban untuk menuntut ilmu (pendidikan). Bukan hanya pengetahuan yang terkait urusan akhirat saja yang ditekankan oleh Islam, melainkan pengetahuan yang terkait dengan urusan dunia juga. Karena tidak mungkin manusia mencapai kebahagiaan hari kelak tanpa melalui jalan kehidupan dunia ini.
Bahkan menurut Imam Syafi’ie, ilmu adalah kunci penting untuk urusan dunia dan akhirat. Sebagaimana perkataan Imam Syafi’ie, yaitu; “Barangsiapa menginginkan dunia, maka harus dengan ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat, maka harus dengan ilmu. Dan barangsiapa menginginkan keduanya, maka harus dengan ilmu”.
Islam menghendaki pengetahuan yang benar-benar dapat membantu mencapai kemakmuran dan kesejahteraan hidup manusia. Yaitu pengetahuan terkait urusan dunia dan akhirat, yang dapat menjamin kemakmuran dan kesejahteraan hidup manusia di dunia dan akhirat. Pengetahuan duniawi adalah berbagai pengetahuan yang berhubungan dengan urusan kehidupan manusia di dunia ini. Baik pengetahuan modern maupun pengetahuan klasik. Atau lumrahnya disebut dengan pengetahuan umum.
Sedangkan pengetahuan ukhrowi adalah berbagai pengetahuan yang mendukung terciptanya kemakmuran dan kesejahteraan hidup manusia kelak di akhirat. Pengetahuan ini meliputi berbagai pengetahuan tentang perbaikan pola perilaku manusia, yang meliputi pola interaksi manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Atau biasa disebut dengan pengetahuan agama.
Pengetahuan umum (duniawi) tidak dapat diabaikan begitu saja, karena sulit bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan hari kelak tanpa melalui kehidupan dunia ini yang mana dalam menjalani kehidupan dunia ini pun harus mengetahui ilmunya. Demikian halnya dengan pengetahuan agama (ukhrowi), manusia tanpa pengetahuan agama niscaya kehidupannya akan menjadi hampa tanpa tujuan. Karena kebahagiaan di dunia akan menjadi sia-sia ketika kelak di akhirat menjadi nista. Islam selalu mengajarkan agar manusia menjaga keseimbangan, baik keseimbangan dhohir maupun bathin, keseimbangan dunia dan akhirat. Dalam Qs. Al-Mulk ayat 3 disebutkan:
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang! Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”.
Lebih jelasnya, akan diuraikan dalam makalah ini tentang belajar dalam pandangan al-Qur’an dan al-Hadith, unsur-unsur belajar dan konsep belajar menurut para pakar pendidikan Islam.
B.       Pembahasan
1.    Belajar dalam pandangan Al-Qur'an dan al-Hadith
Secara rasional semua ilmu pengetahuan dapat diperoleh melalui belajar.  Maka, belajar adalah ”key term” (istilah kunci) yang paling vital dalam usaha pendidikan. Sehingga, tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada pendidikan.[1] Kemampuan untuk belajar merupakan sebuah karunia Allah yang mampu membedakan manusia dangan makhluk yang lain. Allah menghadiahkan akal kepada manusia untuk mampu belajar dan menjadi pemimpin di dunia ini.
Sebelum membahas lebih jauh tentang apa yang dimaksud dengan teori belajar dalam perspektif Islam. Maka menarik kiranya, bahkan dianggap perlu sekali untuk mengetahui akan makna tentang teori belajar terlebih dahulu. Teori adalah seperangkat konsep, asumsi, dan generalisasi yang dapat digunakan untuk mengungkapkan dan menjelaskan perilaku dalam berbagai organisasi.[2] Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungannya.[3]
Maka teori belajar dapat dipahami sebagai kumpulan prinsip umum yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah fakta dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar. Jadi, teori belajar dalam Islam artinya kumpulan penjelasan tentang prinsip-prinsip yang berkaitan dengan peristiwa belajar yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadith serta khazanah pemikiran intelektual Islam.
Pendapat yang mengatakan bahwa belajar sebagai aktifitas yang tidak dapat dipisah dari kehidupan manusia, ternyata bukan berasal dari hasil renungan manusia semata. Ajaran agama sebagai pedoman hidup manusia juga menganjurkan manusia untuk selalu malakukan kegiatan belajar. Dalam AlQur’an, kata al-ilm dan turunannya berulang sebanyak 780 kali. Seperti yang termaktub dalam wahyu yang pertama turun kepada baginda Rasulullah SAW yakni Al-‘Alaq ayat 1-5.
Ayat ini menjadi bukti bahwa al-Qur’an memandang bahwa aktifitas belajar merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Kegiatan belajar dapat berupa menyampaikan, menelaah, mencari, dan mengkaji, serta meneliti. Selain al-Qur’an, al-Hadith juga banyak menerangkan tentang pentingnya menuntut ilmu. Misalnya beberapa hadist berikut ini, “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim; carilah ilmu sejak dalam buaian hingga ke liang lahat; para ulama itu pewaris Nabi; pada hari kiamat ditimbanglah tinta ulama dengan dara syuhada, maka tinta ulama dilebihkan dari ulama”
Belajar memiliki tiga arti penting menurut Al-Qur’an. Pertama, bahwa orang yang belajar akan mendapatkan ilmu yang dapa digunakan untuk memecahkan segala masalah yang dihadapinya di kehidupan dunia. Kedua, manusia dapat mengetahui dan memahami apa yang dilakukannya karena Allah sangat membenci orang yang tidak memiliki pengetahuan akan apa yang dilakukannya karena setiap apa yang diperbuat akan dimintai pertanggungjawabannya. Ketiga, dengan ilmu yang dimilikinya, mampu mengangkat derajatnya di mata Allah.[4]
Belajar merupakan kebutuhan dan berperan penting dalam kehidupan manusia. Hal ini disebabkan manusia terlahir tidak mengetahui apa-apa, ia hanya dibekali potensi jasmaniah dan rohaniah (QS. An-Nahl:78). Maka sangat beralasan jika mengapa dan bagaimana manusia itu dipengaruhi oleh bagaimana ia belajar.[5]
2.      Unsur-unsur belajar
Sebagaimana penjelasan di dalam surat al-Alaq (1-5), bahwa proses belajar mengajar itu tidak lepas dari dua komponen penting, yaitu membaca dan menulis. Perintah pertama kali yang dikemukakan Allah Swt untuk manusia adalah ‘’Iqra’’. Di dalam bahasa Arab, Iqra berarti perintah membaca ‘’bacalah’’.
Menurut Quraish Shihab, wahyu pertama itu tidak menjelaskan apa yang dibaca, karena al-Qur’an menghendaki umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut bismi Rabbik, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, tanda–tanda sejarah, diri sendiri, yang tertulis maupun tidak. Dengan kata lain obyek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau.
Pengulangan perintah membaca dalam wahyu pertama ini bukan sekedar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak akan diperoleh kecuali mengulang-ngulang bacaan atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan. Tetapi hal itu mengisyaratkan mengulang-ulang bacaan bismi Robbik akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru.[6]
Membaca dalam tradisi Arab merupakan pintu pengetahun pertama untuk mendapatkan ilmu dan informasi. Di dalam al-Qur’an, Allah Swt menjelaskan, (QS. Al-Isra’ (17:36). Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. Di sini, Allah Saw mendahulukan ‘’telingga’’ sebagai sarana untuk mendengar semua informasi. Berarti di dalam proses belajar mengajar, seorang murid (peserta didik) diharuskan hadir di dalam kelas, memasang telingga lebar-lebar. Agar supaya semua ilmu dan informasi yang di dengar bisa di simpan di dalam otak dengan baik dan sempurna. Selanjutnya, menggunakan ‘’mata’’ untuk melihat melihat dan tangan untuk mencatat setiap apa yang disampaikan oleh guru.[7]
Pendidikan merupakan sarana atau media yang akan menghantarkan manusia pada tujuan. Sedangkan, pendidikan sendiri dalam prosesnya memerlukan alat, yaitu proses pengajaran atau ta’lim.[8] Setidaknya ada dua unsur utama dalam proses belajar mengajar atau pendidikan, yang memainkan peran sebagai organisme yang akan berproses dan pembimbing atau pengarah. Dua unsur tersebut lebih dikenal dengan sebutan “peserta didik” dan “guru” (pendidik).[9]
Namun belajar menurut Robert Gagne, merupakan sebuah sistem yang di dalamnya terdapat berbagai unsur yang saling terkait sehingga menghasilkan perubahan perilaku. Beberapa unsur dimaksud adalah sebagai berikut:
a). Pembelajar
Pembelajar dapat berupa peserta didik, pembelajar, warga belajar, dan peserta latihan.
b). Rangsangan (stimulus)
Peristiwa yang merangsang penginderaan pembelajaran disebut situasi stimulus. Agar pembelajar mampu belajar optimal, ia harus memfokuskan pada stimulus tertentu yang diminati.
c). Memori
Memori pembelajar berisi berbagai kemampuan yang berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dihasilkan dari aktivitas belajar sebelumnya.
d). Respon
Tindakan yang dihasilkan dari aktualisasi memori disebut respon. Pembelajar yang sedang mengamati stimulus, maka memori yang ada di dalam dirinya kemudian memberikan respon terhadap stimulus tersebut.[10]
3.    Konsep belajar menurut para pakar pendidikan Islam
Beberapa tokoh yang dipilih dalam makalah ini merupakan beberapa ulama yang mempunyai andil dan konsep dalam dunia pendidikan. Pada abad klasik seperti Ibn Maskawaih, Al-Qabisi, Al-Mawardi, Ibn Sina, dan al-Ghazali. Sedangkan tokoh yang berasal dari abad pertengahan diwakili oleh Burhanuddin az-Zarnuji.
Hal ini memang belum mewakili seluruh tokoh pendidikan Islam secara keseluruhan, karena pertimbangan kesulitan mengklasifikasikan ulama terdahulu yang multidisipliner dalam bidang pakar keilmuan. Di samping itu, ulasan tentang konsep dan pemikiran dalam konteks pendidikan yang diuraikan oleh beberapa tokoh di atas, tidak begitu detail dalam makalah ini, karena adanya keterbatasan ruang dan waktu.
a.       Ibn Maskawaih
Titik tekan pemikiran Ibn Maskawaih dalam bidang akhlak termasuk salah satu yang mendasari konsepnya dalam bidang pendidikan. Tujuan pendidikan akhlak yang dirumuskan Ibn Maskawaih adalah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan semua perbuatan yang terpuji, sehingga mencapai kesempurnaan dan memperoleh kebahagiaan hidup.
Kedua aspek dalam dunia pendidikan (pendidik dan anak didik), hubungan keduanya menjadi perhatian khusus Ibn Maskawaih. Menurutnya, kecintaan anak didik ke gurunya harus melebihi kecintaan terhadap orang tuanya sendiri. Kecintaan anak didik terhadap gurunya disamakan dengan kecintaan terhadap tuhannya. Namun karena kecintaan terhadap tuhan tidak boleh disamakan dengan yang lain, maka kecintaan murid terhadap gurunya berada di antara kecintaan terhadap orang tua dan kecintaan terhadap tuhannya.
Menurut keyakinan Ibn Maskawaih, bahwasanya akhlak seseorang itu tidaklah merupakan bawaan atau warisan dari kedua orang tuanya. Untuk itu, pendidikan yang diajarkan oleh seorang guru dapat menjadikan anak berakhlak mulia. Terdapat beberapa metode yang diajukan oleh Ibn Maskawaih dalam mencapai akhlak yang baik. Pertama, adanya kemauan yang sungguh-sungguh untuk berlatih terus-menerus dan menahan diri untuk memperoleh keutamaan dan kesopanan yang sebenarnya. Kedua, dengan menjadikan semua pengetahuan dan pengalaman orang lain yang baik dan luhur sebagai cermin bagi dirinya. [11]
b.      Al-Qabisi
Al-Qabisi memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anak-anak. Menurutnya bahwa mendidik anak-anak merupakan upaya amat strategis dalam rangka menjaga keberlangsungan bangsa dan negara. Oleh karena itu, pendidikan anak harus dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan ketekunan yang tinggi. Al-Qabisi juga menghendaki agar pendidikan dan pengajaran dapat menumbuhkembangkan pribadi anak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang benar.
Untuk itu, Al-Qabisi membagi kurikulum ke dalam dua bagian. Pertama, kurikulum ijbari. Kurikulum ini berisi tentang kandungan yang berhubungan dengan al-Qur’an. Kedua, kurikulum ikhtiyari. Kurikulum ini berisi ilmu hitung dan seluruh ilmu nahwu, bahasa Arab, sya’ir, kisah-kisah masyarakat Arab, sejarah Islam dan lain sebagainya.
Selain membicarakan kurikulum, Al-Qabisi juga berbicara tentang metode dan teknik mempelajari mata pelajaran yang terdapat dalam kurikulum itu. Ia misalnya telah berbicara mengenai teknik dan langkah-langkah menghafal al-Qur’an dan belajar menulis. Bahkan menurutnya, seorang pelajar itu membutuhkan istirahat siang hari. Hal ini sesuai dengan konsep pendidikan modern yang memberikan waktu istirahat sebagai waktu yang amat penting untuk menyegarkan kemampuan berpikir seseorang.[12]
c.       Al-Mawardi
Pemikiran Al-Mawardi dalam bidang pendidikan sebagian besar terkonsentrasi pada masalah etika hubungan murid dalam proses belajar mengajar. Al-Mawardi memandang penting seorang guru memiliki sikap tawadlu’ (rendah hati) serta menjauhi sikap ujub (besar kepala). Menurutnya, sikap tawadlu’ akan menimbulkan simpatik dari para anak didik, sedangkan sikap ujub akan menyebabkan guru tidak disenangi.
Al-Mawardi melarang seseorang mengajar dan mendidik atas dasar motif ekonomi. Akan tetapi menurutnya, seorang guru seharusnya selalu memiliki keikhlasan dan kesadaran akan pentingnya tugas, sehingga dengan kesadaran tersebut, ia akan terdorong untuk mencapai hasil yang maksimal.[13]
d.      Ibn Sina
Tujuan pendidikan menurut Ibn Sina harus diarahkan kepada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang kea rah perkembangannya yang sempurna, yaitu perkembangan fisik, intelektual dan budi pekerti. Ibn Sina mengatakan bahwa guru yang baik adalah guru yang berakal cerdas, beragama, mengetahui cara mendidik akhlak, cakap dalam mendidik anak, berpenampilan tenang, jauh dari berolok-olok dan main-main di hadapan muridnya, tidak bermuka musam, sopan santun, bersih dan suci murni.
Cara mengajar menurut Ibn Sina, yaitu dengan metode talqin. Metode ini biasanya digunakan untuk mengajarkan membaca al-Qur’an. Cara seperti ini dalam ilmu pendidikan modern dikenal dengan nama tutor sebaya, sebagaimana dikenal dalam pengajaran dengan modul.[14]
e. Al-Ghazali
Dalam pemahaman al-Ghazali, pendekatan belajar dalam mencari ilmu dapat dilakukan dengan melakukan dua pendekatan, yakni ta’lim insani dan ta’lim rabbani. Ta’lim insani adalah belajar dengan bimbingan manusia. Pendekatan ini merupakan hal yang lazim dilakukani oleh manusia dan biasanya menggunakan alat indrawi yang diakui oleh orang yang berakal. Menurut Al-Ghazali, dalam proses belajar mengajar sebenarnya terjadi eksplorasi pengetahuan sehingga menghasilkan perubahan-perubahan perilaku.[15]
Titik tekan pendidikan menurut al-Ghazali terletak pada pendidikan agama dan moral. Untuk itu, syarat menjadi guru menurut al-Ghazali, selain cerdas dan sempurna akalnya, juga guru yang baik akhlaknya dan kuat fisiknya. Dengan kesempurnaan akal ia dapat memiliki berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam, dan dengan akhlaknya yang baik ia dapat menjadi contoh dan teladan bagi para muridnya, dan dengan kuat fisiknya ia dapat melaksanakan tugas mengajar, mendidik dan mengarahkan anak-anak muridnya.[16]
e.       Al-Zarnuji
Menurut al-Zarnuji, belajar bernilai ibadah dan mengantarkan seseorang untuk memperoleh kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Karenanya, belajar harus diniati untuk mencari ridha Allah, kebahagiaan akhirat, mengembangkan dan melestarikan Islam, mensyukuri nikmat akal, dan menghilangkan kebodohan. Dimensi duniawi yang dimaksud adalah sejalan dengan konsep pemikiran para ahli pendidikan, yakni menekankan bahwa proses belajar-mengajar hendaknya mampu menghasilkan ilmu yang berupa kemampuan pada tiga ranah yang menjadi tujuan pendidikan/ pembelajaran, baik ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Adapun dimensi ukhrawi, Al-Zarnuji menekankan agar belajar adalah proses untuk mendapat ilmu, hendaknya diniati untuk beribadah. Artinya, belajar sebagai manifestasi perwujudan rasa syukur manusia sebagai seorang hamba kepada Allah SWT yang telah mengaruniakan akal. Lebih dari itu, hasil dari proses belajar-mengajar yang berupa ilmu (kemampuan dalam tiga ranah tersebut), hendaknya dapat diamalkan dan dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kemaslahatan diri dan manusia. Buah ilmu adalah amal. Pengamalan serta pemanfaatan ilmu hendaknya dalam koridor keridhaan Allah, yakni untuk mengembangkan dan melestarikan agama Islam dan menghilangkan kebodohan, baik pada dirinya maupun orang lain. Inilah buah dari ilmu yang menurut al-Zarnuji akan dapat menghantarkan kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat kelak.
Dalam konteks ini, para pakar pendidikan Islam termasuk al-Zarnuji mengatakan bahwa para guru harus memiliki perangai yang terpuji. Guru disyaratkan memiliki sifat wara’ (meninggalkan hal-hal yang terlarang), memiliki kompetensi (kemampuan) dibanding muridnya, dan berumur (lebih tua usianya). Di samping itu, al-Zarnuji menekankan pada “kedewasaan” (baik ilmu maupun umur) seorang guru. Hal ini senada dengan pernyataan Abu Hanifah ketika bertemu Hammad, seraya berkata: “Aku dapati Hammad sudah tua, berwibawa, santun, dan penyabar. Maka aku menetap di sampingnya, dan akupun tumbuh dan berkembang.[17]
C.     Kesimpulan
Dari deskripsi singkat di atas, dapat dipahami bahwa Islam benar-benar memperhatikan pentingnya ilmu pengetahuan serta urgensi mempelajari ilmu pengetahuan tersebut. Hal ini banyak dibicarakan di dalam al-Qur’an dan al-Hadith. Bahkan di dalam ajaran Islam diyakini bahwasanya, orang yang belajar akan memiliki ilmu yang nantinya akan berguna untuk kepentingan hidup di dunia, serta bekal untuk keberhasilan hidup di akhirat kelak.
Dalam dunia belajar-mengajar, tentunya tidak bisa dilepaskan dari dua unsur penting, yaitu pendidik dan anak didik. Para pakar pendidikan Islam sepakat bahwa titik tekan pendidikan prioritas yang diberikan kepada anak didik adalah pendidikan agama dan akhlak. Karena demi suksesi pendidikan akhlak inilah, maka pendidik, mau tidak mau, harus member contoh akhlak yang baik pula, agar bisa diteladani oleh anak didiknya.


DAFTAR PUSTAKA

Berkson ,William & Wettersten, John.2003. Psikologi Belajar dan Filsafat Ilmu Karl Popper. Terjemahan oleh Ali Noer Zaman. Yogyakarta: Qalam.
Nata, Abuddin.2000. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Rusn, Abidin Ibnu. 2009. Pemikiran al-Ghazali tentang Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Syah, Muhibbin.2004. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Sugiyono.1994. Metode Penelitian Adminstrasi. Bandung: Alfabeta.
Umiarso & Zamroni.2011. Pendidikan Pembesan dalam Perspektif Barat dan Timur. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA.

http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/10/model-ideal-belajar-menurut-al-qur’an.


[1] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2004), Cet.3, hlm.59.
[2] Sugiyono, Metode Penelitian Adminstrasi (Bandung: Alfabeta, 1994), cet. 11, hlm. 55.
[3] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2004),  Cet.3, hlm. 68
[5] William Berkson, John Wettersten, Psikologi Belajar dan Filsafat Ilmu Karl Popper. Terjemahan oleh Ali Noer Zaman (Yogyakarta: Qalam, 2003), hlm.v.
[7] http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/10/model-ideal-belajar-menurut-al-qur’an.
[8] Abidin Ibnu Rusn. 2009. Pemikiran al-Ghazali tentang Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hlm 61
[9] Umiarso & Zamroni. Pendidikan Pembesan dalam Perspektif Barat dan Timur (Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2011) Hlm. 82
[11] Abuddin Nata. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000) hlm. 6-23
[12] Ibid, hlm 26-34
[13] Ibid. hlm 49-53
[14] Ibid, hlm 67-77
[16] Abuddin Nata. Ibid hlm 94-96

1 komentar: