Oleh: Iwan
Kuswandi
A. Pendahuluan
Dalam al-Qur'an, Allah
berfirman yang artinya, "Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan
pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari
diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (QS. (36)
Yasin: 36)
Meskipun
gagasan tentang "pasangan" umumnya bermakna laki-laki dan perempuan,
atau jantan dan betina, ungkapan "maupun dari apa yang tidak mereka
ketahui" dalam ayat di atas memiliki cakupan yang lebih luas. Dalam
tulisan ini, penulis ingin memberi pemaknaan dari ayat tersebut menjadi makna
pemikiran Barat dan Timur. Konteks pembicaraan dunia barat akan membahas
tentang produk pemikiran yang dihasilkan dari daratan Eropa dan Amerika,
sedangkan dunia Timur akan membahas peradaban Islam - bukan Cina dan India -
dan lain sebagainya.
Dalam
Islam, ada dua cara untuk mengenali kebudayaan bangsa lain. Pertama, dengan
pola adopsi kebudayaan lain, terutama dalam hal transmisi ilmu pengetahuan
melalui pendidikan sebagai medianya. Transmisi keilmuan non-Islam yang
dilakukan oleh umat Islam pada zaman klasik sebagian besar berupa pemikiran
warisan Yunani.sehingga kebudayaan Yunani mempunyai pengaruh besar terhadap
perkembangan peradaban Islam.
Kedua,
dengan menerjemahkan literatur-literatur non-Islam. Dari cara kedua inilah yang
membuat pendidikan Islam berkembang dengan munculnya lembaga penerjemahan seperti
Bait al-Hikmah dan sekolah – sekolah penerjemahan. Penerjemahan tersebut
menggugah rasa tertarik umat Islam untuk mempelajarinya dengan mengambil
hal-hal yang sesuai dengan ajaran Islam. Buku-buku dari Yunani diterjemahkan ke
dalam bahasa Arab. selanjutnya mereka mengembangkannya menjadi karya –karya
yang asli milik umat Islam.
Suksesi
penerjemahan inilah, salah satu faktor atas bangkitnya peradaban Islam.
Kemajuan dan kejayaan pendidikan Islam di masa klasik, tentu tidak bisa
melupakan sosok ulama-ulama besar. Dia adalah al-Kindi sebagai perintis
intelektual Islam. Al-Kindi merupakan tokoh yang dikenal sebagai failasuf
al-Ârab (filosof bangsa Arab) di samping sebagai filosof muslim pertama. Dia
dikenal sebagai seorang penulis yang ensiklopedis dalam filsafat dan ilmu
pengetahuan. Tidak hanya al-Kindi, sejarah Islam klasik juga memiliki sosok
al-Farabi, yang termasyhur namanya dalam bidang logika dan sebagai bicara Plato
dan Aristoteles pada masanya.
Di samping
itu, kita juga sering mendengar nama Ibn Sina, merupakan muslim yang luar biasa
produktif. Banyak sekali karangannya, tetapi yang paling terkenal adalah
al-Syifa, suatu karya ensiklopedis tentang fisika, metafisika, dan matematika
yang terdiri atas 18 jilid. Dari Cordova, lahir sosok Ibn Rusyd. Dia adalah
filosof muslim yang paling dikenal di Barat karena kontribusinya baik di bidang
filsafat dan ilmu pengetahuan. [1]
Dalam
makalah ini, akan dibahas hubungan antara Islam dan Barat dalam konteks
filsafat pendidikan Islam. Di dalamnya memuat tentang persamaan makna fithrah
manusia, kebutuhan manusia yang berkenaan dengan kesehatan fisik, manusia
sebagai pendidik. Lebih jelasnya akan diuraikan pada bahasan setelah sub ini.
B. Pembahasan
1. Makna fithrah Manusia
Hubungan
Islam dan Barat juga kita temukan dalam pembahasan fithrah manusia. Banyak
ulama Islam yang menukil ayat al-Qur’an untuk membicarakan makna fithrah
manusia. Namun di dunia Barat kita juga menemukan sosok John Locke yang menghasilkan ide
tabularasa. Salah satu firman Allah dalam Al-Qur’an tentang fitrah
manusia terdapat pada QS. Ar-Rum ayat 30, yang artinya:
“Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah
Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan
pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui.”[2]
Firman
Allah di atas, apabila dikaitkan dengan unsur sosial, dapat ditarik sebuah
kesimpulan bahwasanya fithrah manusia adalah makhluk yang sangat membutuhkan
interaksi serta memerlukan hubungan dengan manusia lainnya. Hal ini karena
diyakini bahwasanya manusia tidak mungkin mampu untuk memenuhi segala
kebutuhannya dengan kemampuan dirinya sendiri, terutama yang dibutuhkan untuk
keberlangsungan hidupnya, seperti; kebutuhan papan, sandang dan pangan.
Karena
itu, manusia harus menyadari bahwasanya potensi yang dimilikinya tidak
sempurna. Tetapi memiliki keterbatasan atas apa yang dimilikinya. Sehingga
manusia selalu membutuhkan bantuan dan pertolongan dari orang lain dalam upaya
pemenuhan semua kebutuhannya. Keadaan ini menyadarkan bahwa manusia merupakan
makhluk sosial. Bahkan pemilihan terhadap agamapun, ia dipengaruhi oleh orang
tuanya, sebagaimana sabda Rasulullah, “Setiap anak dilahirkan dalam
keadaan fithrah, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani atau
Majusi” (HR. Bukhari)[3].
Teori
mengenai fithrah manusia yang dijelaskan dalam surat Ar-Rum, ayat 30 sangat
sesuai dengan filsafat yang dikemukakan oleh John Locke (1632-1704). John Locke
merupakan salah seorang filosof yang menganut paham empirisme. Ia berkeyakinan
dan berpedoman bahwa watak dalam diri manusia sangat ditentukan oleh
faktor-faktor eksternal yang berada di luar diri mereka.
Empirisme
yang dianut oleh John Locke ini menjelaskan bahwa manusia yang terlahir di
dunia adalah sosok yang sepenuhnya suci. Ia bersih dan putih, sehingga gampang
“kotor dan berwarna”, dalam artian ia akan gampang terpengaruh oleh lingkungan
tempat dia hidup. Sehingga baik tidaknya seorang anak itu sangat ditentukan
oleh sekelilingnya. Baik tidaknya seorang manusia sangat berpatok pada
bagaimana orang-orang sekitarnya mewarnai dirinya. Konsep yang demikian biasa
disebut dengan Tabu Larasa.
Menurut
John Locke, manusia yang dilahirkan di muka bumi ini bisa diibaratkan dengan
kertas putih. Kertas yang putih itu akan berwarna berdasarkan warna yang
diberikan oleh sekelilingnya. Maka kiranya, pengalaman-pengalaman hidup yang
dialami oleh manusia, baik bersama ibu, ayah, kawan-kawan bahkan musuhnya
adalah faktor eksternal yang akan “mewarnai” dirinya.
Menurutnya, manusia memiliki dua pengalaman:
pengalaman lahiriah (sensation) dan pengalaman batiniah (reflection). Kedua
sumber pengalaman itu akan memengaruhi jiwa seorang manusia. Lebih jelasnya,
“akan mewarnai” pola pikirnya. Sebab, kekuatan faktor eksternal dalam membentuk
karakter dalam diri seseorang lebih kuat dari pada faktor internalnya. Tentang
hal ini, kita bisa melihat banyak contoh. Misalnya, banyak orang yang wataknya
baik. Sejak kecil ia dikenal baik, karena unsur internal dalam dirinya baik. Ia
juga dilahirkan dari keluarga yang baik. Namun ketika dewasa dan menginjak
remaja, ia tiba-tiba menjadi sosok yang brutal dan anarkis. Ternyata seteleh
diselidiki, didapat sebuah kesimpulan bahwa faktor eksternal dari luar diri
orang tersebut telah mengalahkan unsur internal dalam dirinya.
Kanyataan
ini menjadikan kita semakin tahu bahwa unsur internal bersifat pasif, oleh
sebab pengaruhnya bagi perkembangan watak manusia sangatlah kecil, berbeda
dengan unsur eksternal yang memiliki pengaruh yang kuat dalam membentuk
kepribadian seseorang. Hal ini senada
dengan ajaran filsafat Pendidikan Islam bahwasanya, orangtua – yang tak lain
adalah faktor eksternal, adalah sosok yang menggoreskan tulisan di atas
lembaran putih buah hati yang ia lahirkan
Dari sini, maka tak salah jika Rasulullah
mengatakan bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Sebab ibu adalah
faktor eksternal pertama yang paling sering menjaga serta menjalin komunikasi
bersama buah hatinya. Sehingga, bisa diperkirakan jika sang ibu baik, maka
anaknya pun akan baik. Sebaliknya jika sang ibu jelek, maka anaknya pun akan
berakhlak jelek.
2.
Lingkungan dan Kurikulum
Pendidikan Islam Bagi Manusia
Menurut Ki Hajar Dewantara ada
tiga lingkungan "tri pusat pendidikan" atau tiga pusat lembaga
pendidikan, yaitu: lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.[4] Dalam hal ini penyusunan
kurikulum pendidikan Islam harus juga disesuaikan dengan lingkungan peserta
didik, sesuai dengan kebutuhan sosial masyarakat di wilayah tertentu, dari segi
lain pendidikan Islam harus bersifat dinamis dan bisa menerima dinamika perubahan
bila diperlukan, kurikulum pendidikan Islam juga mempunyai sifat keserasian
antara mata pelajaran, kandungan, dan kegiatan-kegiatan pembelajaran.[5] Namun tujuan akhir
pendidikan Islam atau evaluasinya adalah terbentuknya manusia paripurna insan
kamil.[6]
3.
Manusia Sebagai Pendidik
Manusia sebagai
pendidik atau guru, tentunya ia memiliki hak dan kewajiban. Salah satu hak guru
dalam dunia pendidikan adalah gaji. Penerimaan gaji ini menjadi persoalan
tersendiri di kalangan filosof, sebut aja Sokrates. Ia adalah salah satu tokoh
terkenal yang menolak pemberian gaji untuk guru. Sikap Sokrates ini diikuti
oleh filosof muslim, al-Ghazali.
Pandangan
al-Ghazali, bahwa seorang guru tidak hanya diorientasikan pada gaji semata,
akan tetapi bukan berarti menolaknya. Pemikiran ini sepertinya relevan pada
masa modern sekarang. Walaupun pada masa sekarang sudah terjadi hal yang di
luar batas yang telah menjadikan guru sebagai petugas semata yang mendapat gaji
dan tanggung jawab tertentu, serta tugas yang dilimitasi dalam dinding sekolah
yang merupakan dampak dari komersialisme pendidikan, matrialisme dan
modernisasi, sehingga terciptalah jarak antara pendidik dan peserta didik.
Islam dan dunia
modern memiliki perbedaan dalam menempatkan posisi pengajar. Gaji dari negara
atau dari organisasi swasta merupakan orientasi utama bagi pengajar, inilah
persepsi manusia saat ini. Bahkan yang sangat ironi, mereka bekerja hanya
sekedar memenuhi tugas sebagai bentuk tanggung jawab atas gaji yang mereka
terima. Tidak ada upaya dan usaha untuk melangkah lebih jauh.
Akibat
komersialisme dan modernisasi inilah, sehingga menciptakan jarak antara
pengajar dan pelajar dan menghilangkan ikatan-ikatan yang muncul antara
keduanya. Dalam Islam, pengajar tidak sekedar petugas semata. Sosok seorang
pendidik merupakan figur yang akan selalu diteladani, yang dapat
mentransformasikan Ilmu pengetahuan nilai-nilai sosial, moral dan keagamaan
yang berangkat dari pemahaman konsep pendidikan yang benar.
Larangan seorang
pendidik mengharap gaji dalam mengajar menurut al-Mawardi, karena kedudukan
ilmu lebih bernilai dan tidak dapat disejajarkan dengan materi. Puncak
kenikmatan dan segala keinginan dapat terwujud dengan memiliki ilmu. Seorang
yang memiliki ilmu dan mengamalkannya dengan ikhlas, ia tidak akan mengharap
balasan dari ilmu yang ia amalkan.
Karena itulah,
bagi al-Mawardi tugas mendidik dengan mengharap ridla Allah sangat mulia, jika
pendidik mengajar hanya karena materi, saat gaji yang ia terima tidak sesuai
dengan yang ia harapkan, maka ia hanya akan mengajar dengan porsi yang sesuai
dengan gaji yang ia terima, hal ini karena motivasi mengajar berorientasi hanya
pada materi saja. Menarik untuk diingat,
pada masa Umar Abdul Aziz menjabat sebagai khalifah, ia memberikan gaji kepada
salah seorang guru istana, Harits bin Muhammad, namun gaji tersebut ditolak,
karena alasan ia akan mendapat balasan dari Allah. [7]
Bahkan salah satu tokoh pendidikan Islam Indonesia KH. Hasyim Asy'ari, memberi
rambu-rambu untuk para guru dalam mengajarkan ilmunya agar meluruskan niat,
tidak hanya mengharapkan materi semata.[8]
Bukan hanya urusan gaji bagi pendidik yang
dipikirkan oleh pemikir Islam dan Barat. Menurut dua
tokoh pemikir klasik; Sokrates dan Konfusius, pendidik harus memiliki tujuan
untuk menanamkan kepada anak didiknya suatu kecintaan belajar dan hasrat untuk
hidup yang mulia. Untuk mencapai tujuan tersebut, kurikulum harus
menitikberatkan pada pengembangan intelektual, akhlak dan aspek spiritual anak
didik. Kurikulum itu harus disampaikan melalui proses belajar mandiri,
perenungan dan menjadikan pribadi yang merdeka.
Hal tersebut sesuai dengan tujuan
pendidikan Islam yang dirumuskan oleh Prof. Muhammad Athiyah al-Abrosyi, ia
menyimpulkan menjadi 5 tujuan, yaitu: Pertama, Untuk membantu
pembentukan akhlak yang mulia. Kedua, Persiapan untuk kehidupan dunia
dan kehidupan akhirat. Ketiga, Menumbuhkan ruh ilmiah (scientific
spirit) pada pelajaran dan memuaskan keinginan hati untuk mengetahui dan
memungkinkan ia mengkaji ilmu. Keempat, Menyiapkan
pelajar dari segi professional. Kelima, Persiapan
untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan.[9]
Begitu juga dengan tujuan pendidikan menurut ibn Khaldun
adalah: Pertama, memberi kesempatan kepada pikiran untuk aktif bekerja.
Karena hal ini penting untuk terbukanya pikiran dan kematangan seseorang yang
akhirnya dapat bermanfaat bagi masyarakat. Kedua, memperoleh ilmu
pengetahuan dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju dan berbudaya. Ketiga,
memperoleh pekerjaan untuk mencari penghidupan.[10]
Menurut Buya Hamka, pentingnya manusia mencari ilmu
pengetahuan bukan hanya membantu manusia memperoleh penghidupan yang layak
melainkan lebih dari itu, dengan ilmu manusia akan mampu mengenal tuhannya,
memperhalus akhlaknya, dan senantiasa berupaya mencari keridhaan Allah sehingga
manusia mendapatkan ketentraman dalam hidupnya. Dalam pandangan Hamka,
pendidikan terbagi ke dalam dua bagian: Pertama, pendidikan jasmani
yaitu pendidikan untuk pertumbuhan dan kesempurnaan jasmani serta kekuatan jiwa
dan akal. Kedua, pendidikan ruhani, pendidikan untuk kesempurnaan
fithrah manusia dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang didasarkan kepada
agama.[11]
4.
Sehat Fisik: Kebutuhan
Pokok Manusia
Setelah
mengetahui tentang konsep fithrah manusia, maka selanjutnya akan membahas tentang
kebutuhan manusia. Salah satu kebutuhan manusia menurut Maslow adalah kebutuhan
Fisiologis (Phisiological needs). Contohnya adalah: sandang (pakaian), pangan
(makanan), papan (rumah), dan kebutuhan biologis seperti: buang air besar,
buang air kecil dan bernafas.[12] Berbicara tentang fisik berarti membicarakan tentang
kesehatan fisik.
Kebutuhan
fisik, dalam hal ini kebutuhan biologis (kesehatan). Siapa yang hidupnya tidak
mau sehat? Kebutuhan untuk tumbuh sehat merupakan keinginan semua manusia.
Dalam hal ini meliputi mendapatkan makan yang bergizi, papan yang sehat, udara
segar, tidur atau istirahat, olah raga dan rekreasi. Pemenuhan kebutuhan fisik
ini merupakan modal dasar bagi diperolehnya otak yang sehat.
Hal
ini diperkuat oleh Ibn Sina, pemenuhan kebutuhan dan pembinaan
fisik yang berupa olahraga, makan, minum, tidur, dan menjaga kebersihan
merupakan modal dasar bagi diperolehnya otak yang sehat.[13]
Selain itu, untuk mencapai fisik yang prima dengan cara istirahat yang cukup,
konsumsi makanan yang bergizi serta menjauhi makan minum yang dapat menjadikan
dirinya mabuk.[14]
Descartes, seorang filsuf modern asal
Perancis, berupaya menanggapi problem itu dengan merumuskan pendapatnya, bahwa
pikiran manusia merupakan entitas yang lebih tinggi tingkatannya daripada
tubuh. Pikiran mempunyai prioritas atas tubuh. Fakta bahwa kita dapat berpikir
menunjukkan bahwa manusia merupakan entitas yang memiliki kesadaran. Ada relasi
internal antara kesadaran dan pikiran.
Dengan kata lain, manusia memiliki akal
pikiran dan tubuh. Pemikiran ini kemudian diperkuat melalui essai filsafat
Montessori. Program Montessori didirikan oleh seorang dokter dan pendidik, Dr.
Maria Montessori pada tahun 1907. Filsafat Montessori merupakan filsafat yang
meyakini pentingnya gerakan tubuh, karena diyakini bahwa tubuh yang sehat akan
melahirkan otak yang sehat.
5. Pendidikan: Tanggung Jawab Keluarga dan Negara
Menurut pemikiran Aristoteles,
bahwasanya pendidikan adalah tanggung jawab negara. Antara seseorang dan
negara, keduanya sebenarnya sama-sama membutuhkan. Dalam diskusi pendidikan
Aristoteles, pendidikan bukan hanya sekedar ilmu ansich, akan tetapi merupakan
sebuah pelayanan yang mesti ditangani oleh negara dan politik itu sendiri.
Kebijakan negara dan politik harus memperhatikan pendidikan yang berkenaan ke
moral dan intelektual.
Bahkan keduanya mesti
dimasukkan ke content pendidikan itu sendiri. Nilai-nilai kebajikan seharusnya
menjadi prinsip dalam kehidupan negara. Kebajikan intelektual bisa diajarkan,
sedangkan kebajikan moral dapat diperoleh melalui praktek atau kebiasaan. Akan
tetapi bagi Aristoteles, keduanya harus diaplikasikan dengan baik dalam
melayani negara atau komunitas. Hal ini berhubung karena manusia sebagai
makhluk sosial sekaligus sebagai makhluk yang berpolitik serta untuk mewujudkan
kebaikan, maka manusia hanya mungkin dalam sebuah negara atau komunitas.
Pendidikan bukan hanya
merupakan tanggung jawab negara. Hal ini juga tanggung jawab keluarga. Republik
salah satu karya Plato paling populer.
Meskipun sudah ditulis dua ribu tahun yang lalu. Dialog merupakan akar
tranformasi masyarakat yang diyakini oleh para ahli filsafat pendidikan.
Contohnya pada program pendidikan, bahwasanya semua anak memulai pendidikan
dari dasar yang sama. Demi persamaan inilah, orang tua tidak harus sekedar bisa
mempengaruhi pendidikan terhadap anak. Tapi yang terpenting dalam pembinaan
terhadap keluarga.
C. Kesimpulan
Kesimpulan makalah ini adalah
bahwa makna fithrah manusia terdapat dalam al-Qur'an surat ar-Rum ayat 30, hal
ini senada dengan pemikiran Tabularasa, John
Locke merupakan salah seorang filosof yang menganut paham empirisme. Dalam
pendidikan terdapat tiga lingkungan
"tri pusat pendidikan" atau tiga pusat lembaga pendidikan, yaitu:
lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.[15] Dalam hal ini penyusunan
kurikulum pendidikan Islam harus juga disesuaikan dengan lingkungan peserta
didik, sesuai dengan kebutuhan sosial masyarakat di wilayah tertentu. Adapun
tujuan akhir pendidikan sebagai evaluasinya untuk mencapai insan kamil.
Manusia sebagai pendidik atau
guru, tentunya ia memiliki hak dan kewajiban. Salah satu hak guru dalam dunia
pendidikan adalah gaji. Penerimaan gaji ini menjadi persoalan tersendiri di
kalangan filosof, sebut aja Sokrates. Ia adalah salah satu tokoh terkenal yang
menolak pemberian gaji untuk guru. Sikap Sokrates ini diikuti oleh filosof
muslim, al-Ghazali. Selain itu, yang mendukung pemikiran ini adalah
al-Mawardi,Kiai Hasyim Asy'ari dan lain sebagainya. Di samping itu, seseorang
dalam dunia pendidikan membutuhkan kesehatan fisik sebagaimana filsafat
Montessori. Di samping itu, pendidikan merupakan tanggung jawab keluarga dan
negara, sebagaimana pemikiran Aristoteles dan Plato.
Daftar Pustaka
al-Syaibani,
Omar Mohammad al-Toumy. 1979. Falsafah Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan
Bintang.
Asrohan, Hanun. 1999. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta:
PT. Logos Wacana Ilmu.
Az-Zanuji. tt.
Ta’limul Muta’allim Thariqut Ta’allum. Sumenep: Pondok Pesantren
Al-Amien Prenduan.
Bakry,
Sama'un. 2005. Menggagas Konsep Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka
Bani Quraisy.
Kurniawan,
Syamsul & Mahrus, Erwin. 2011. Jejak
Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Nata, Abuddin. 2000. Pemikiran Para Tokoh
Pendidikan Islam, Jakarta: Raja grafindo Persada.
---,
1997. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos
Wacana Ilmu.
Nizar,
Syamsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan
Praktis. Jakarta: Ciputat Press.
Sarwono,
Sarlito W. 2002. Berkenalan
dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang.
Suharto,
Toto. 2003. Epistemologi Sejarah Kritis Ibn Khaldun. Jogjakarta: Fajar
Pustaka Baru.
Syalabi, Ahmad. 1986. At-Tarbiyah Wa Ta’lim cet
ke 8 (Kairo: Maktabah An-Nahdhotul Misriyah.
Zuhairini. FIlsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi
Aksara, 1995.
[1]
Hanun Asrohan. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu,
1999, hlm, 34-37
[2]
Fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah.
Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau
ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak
beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.
[3]
Az-Zanuji. Ta’limul Muta’allim Thariqut Ta’allum. Sumenep: Pondok
Pesantren Al-Amien Prenduan. tt. Hlm 25
[4]
Sama'un Bakry.Menggagas Konsep Ilmu
Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005, hlm, 97.
[5]
Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibani. Falsafah
Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1979, hlm, 518.
[6]
Syamsul Haji Nizar. Filsafat
Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis. Jakarta:
Ciputat Press, 2002, hlm, 135.
[7]
Ahmad Syalabi, At-Tarbiyah Wa Ta’lim cet ke 8 (Kairo: Maktabah
An-Nahdhotul Misriyah,1986), 236.
[8]
Syamsul Nizar, Filsafat Pendidikan
Islam. Jakarta: Ciputat Press, 2002, hlm, 107.
[9]
Zuhairini. FIlsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1995, hlm,
164-165.
[10]
Toto Suharto, Epistemologi Sejarah
Kritis Ibn Khaldun. Jogjakarta: Fajar Pustaka Baru, 2003, hlm, 241
[11]
Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus, Jejak
Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,2011, hlm, 229.
[12]
Sarlito W. Sarwono, Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh
Psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang, 2002), 176-178.
[13]
Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, Jakarta: Raja
grafindo Persada, 2000, hlm, 99.
[15]
Sama'un Bakry.Menggagas Konsep Ilmu
Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005, hlm, 97.
Online Casino UK | Get up to £100 in Free Bets when you join today
BalasHapusWe are a UK gambling brand. We have partnered with the leading 카지노 UK クイーンカジノ gambling operator 우리카지노 in online betting markets to provide them with an