Sabtu, 14 Juli 2012

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM: ANALISIS RELEVANSI PEMIKIRAN BARAT DAN ISLAM



Oleh: Iwan Kuswandi

A.     Pendahuluan
Dalam al-Qur'an, Allah berfirman yang artinya, "Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (QS. (36) Yasin: 36)
            Meskipun gagasan tentang "pasangan" umumnya bermakna laki-laki dan perempuan, atau jantan dan betina, ungkapan "maupun dari apa yang tidak mereka ketahui" dalam ayat di atas memiliki cakupan yang lebih luas. Dalam tulisan ini, penulis ingin memberi pemaknaan dari ayat tersebut menjadi makna pemikiran Barat dan Timur. Konteks pembicaraan dunia barat akan membahas tentang produk pemikiran yang dihasilkan dari daratan Eropa dan Amerika, sedangkan dunia Timur akan membahas peradaban Islam - bukan Cina dan India - dan lain sebagainya.
            Dalam Islam, ada dua cara untuk mengenali kebudayaan bangsa lain. Pertama, dengan pola adopsi kebudayaan lain, terutama dalam hal transmisi ilmu pengetahuan melalui pendidikan sebagai medianya. Transmisi keilmuan non-Islam yang dilakukan oleh umat Islam pada zaman klasik sebagian besar berupa pemikiran warisan Yunani.sehingga kebudayaan Yunani mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan peradaban Islam.
            Kedua, dengan menerjemahkan literatur-literatur non-Islam. Dari cara kedua inilah yang membuat pendidikan Islam berkembang dengan munculnya lembaga penerjemahan seperti Bait al-Hikmah dan sekolah – sekolah penerjemahan. Penerjemahan tersebut menggugah rasa tertarik umat Islam untuk mempelajarinya dengan mengambil hal-hal yang sesuai dengan ajaran Islam. Buku-buku dari Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. selanjutnya mereka mengembangkannya menjadi karya –karya yang asli milik umat Islam.
            Suksesi penerjemahan inilah, salah satu faktor atas bangkitnya peradaban Islam. Kemajuan dan kejayaan pendidikan Islam di masa klasik, tentu tidak bisa melupakan sosok ulama-ulama besar. Dia adalah al-Kindi sebagai perintis intelektual Islam. Al-Kindi merupakan tokoh yang dikenal sebagai failasuf al-Ârab (filosof bangsa Arab) di samping sebagai filosof muslim pertama. Dia dikenal sebagai seorang penulis yang ensiklopedis dalam filsafat dan ilmu pengetahuan. Tidak hanya al-Kindi, sejarah Islam klasik juga memiliki sosok al-Farabi, yang termasyhur namanya dalam bidang logika dan sebagai bicara Plato dan Aristoteles pada masanya.
            Di samping itu, kita juga sering mendengar nama Ibn Sina, merupakan muslim yang luar biasa produktif. Banyak sekali karangannya, tetapi yang paling terkenal adalah al-Syifa, suatu karya ensiklopedis tentang fisika, metafisika, dan matematika yang terdiri atas 18 jilid. Dari Cordova, lahir sosok Ibn Rusyd. Dia adalah filosof muslim yang paling dikenal di Barat karena kontribusinya baik di bidang filsafat dan ilmu pengetahuan. [1]
            Dalam makalah ini, akan dibahas hubungan antara Islam dan Barat dalam konteks filsafat pendidikan Islam. Di dalamnya memuat tentang persamaan makna fithrah manusia, kebutuhan manusia yang berkenaan dengan kesehatan fisik, manusia sebagai pendidik. Lebih jelasnya akan diuraikan pada bahasan setelah sub ini.

B.     Pembahasan
1.      Makna fithrah Manusia
     Hubungan Islam dan Barat juga kita temukan dalam pembahasan fithrah manusia. Banyak ulama Islam yang menukil ayat al-Qur’an untuk membicarakan makna fithrah manusia. Namun di dunia Barat kita juga menemukan sosok John Locke yang menghasilkan ide tabularasa. Salah satu firman Allah dalam Al-Qur’an tentang fitrah manusia terdapat pada QS. Ar-Rum ayat 30, yang artinya: 
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”[2]

     Firman Allah di atas, apabila dikaitkan dengan unsur sosial, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwasanya fithrah manusia adalah makhluk yang sangat membutuhkan interaksi serta memerlukan hubungan dengan manusia lainnya. Hal ini karena diyakini bahwasanya manusia tidak mungkin mampu untuk memenuhi segala kebutuhannya dengan kemampuan dirinya sendiri, terutama yang dibutuhkan untuk keberlangsungan hidupnya, seperti; kebutuhan papan, sandang dan pangan. 
     Karena itu, manusia harus menyadari bahwasanya potensi yang dimilikinya tidak sempurna. Tetapi memiliki keterbatasan atas apa yang dimilikinya. Sehingga manusia selalu membutuhkan bantuan dan pertolongan dari orang lain dalam upaya pemenuhan semua kebutuhannya. Keadaan ini menyadarkan bahwa manusia merupakan makhluk sosial. Bahkan pemilihan terhadap agamapun, ia dipengaruhi oleh orang tuanya, sebagaimana sabda Rasulullah, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR. Bukhari)[3].
     Teori mengenai fithrah manusia yang dijelaskan dalam surat Ar-Rum, ayat 30 sangat sesuai dengan filsafat yang dikemukakan oleh John Locke (1632-1704). John Locke merupakan salah seorang filosof yang menganut paham empirisme. Ia berkeyakinan dan berpedoman bahwa watak dalam diri manusia sangat ditentukan oleh faktor-faktor eksternal yang berada di luar diri mereka.
     Empirisme yang dianut oleh John Locke ini menjelaskan bahwa manusia yang terlahir di dunia adalah sosok yang sepenuhnya suci. Ia bersih dan putih, sehingga gampang “kotor dan berwarna”, dalam artian ia akan gampang terpengaruh oleh lingkungan tempat dia hidup. Sehingga baik tidaknya seorang anak itu sangat ditentukan oleh sekelilingnya. Baik tidaknya seorang manusia sangat berpatok pada bagaimana orang-orang sekitarnya mewarnai dirinya. Konsep yang demikian biasa disebut dengan Tabu Larasa.
     Menurut John Locke, manusia yang dilahirkan di muka bumi ini bisa diibaratkan dengan kertas putih. Kertas yang putih itu akan berwarna berdasarkan warna yang diberikan oleh sekelilingnya. Maka kiranya, pengalaman-pengalaman hidup yang dialami oleh manusia, baik bersama ibu, ayah, kawan-kawan bahkan musuhnya adalah faktor eksternal yang akan “mewarnai” dirinya.
      Menurutnya, manusia memiliki dua pengalaman: pengalaman lahiriah (sensation) dan pengalaman batiniah (reflection). Kedua sumber pengalaman itu akan memengaruhi jiwa seorang manusia. Lebih jelasnya, “akan mewarnai” pola pikirnya. Sebab, kekuatan faktor eksternal dalam membentuk karakter dalam diri seseorang lebih kuat dari pada faktor internalnya. Tentang hal ini, kita bisa melihat banyak contoh. Misalnya, banyak orang yang wataknya baik. Sejak kecil ia dikenal baik, karena unsur internal dalam dirinya baik. Ia juga dilahirkan dari keluarga yang baik. Namun ketika dewasa dan menginjak remaja, ia tiba-tiba menjadi sosok yang brutal dan anarkis. Ternyata seteleh diselidiki, didapat sebuah kesimpulan bahwa faktor eksternal dari luar diri orang tersebut telah mengalahkan unsur internal dalam dirinya.
     Kanyataan ini menjadikan kita semakin tahu bahwa unsur internal bersifat pasif, oleh sebab pengaruhnya bagi perkembangan watak manusia sangatlah kecil, berbeda dengan unsur eksternal yang memiliki pengaruh yang kuat dalam membentuk kepribadian seseorang.  Hal ini senada dengan ajaran filsafat Pendidikan Islam bahwasanya, orangtua – yang tak lain adalah faktor eksternal, adalah sosok yang menggoreskan tulisan di atas lembaran putih buah hati yang ia lahirkan
      Dari sini, maka tak salah jika Rasulullah mengatakan bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Sebab ibu adalah faktor eksternal pertama yang paling sering menjaga serta menjalin komunikasi bersama buah hatinya. Sehingga, bisa diperkirakan jika sang ibu baik, maka anaknya pun akan baik. Sebaliknya jika sang ibu jelek, maka anaknya pun akan berakhlak jelek.

2.      Lingkungan dan Kurikulum Pendidikan Islam Bagi Manusia
Menurut Ki Hajar Dewantara ada tiga lingkungan "tri pusat pendidikan" atau tiga pusat lembaga pendidikan, yaitu: lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.[4] Dalam hal ini penyusunan kurikulum pendidikan Islam harus juga disesuaikan dengan lingkungan peserta didik, sesuai dengan kebutuhan sosial masyarakat di wilayah tertentu, dari segi lain pendidikan Islam harus bersifat dinamis dan bisa menerima dinamika perubahan bila diperlukan, kurikulum pendidikan Islam juga mempunyai sifat keserasian antara mata pelajaran, kandungan, dan kegiatan-kegiatan pembelajaran.[5] Namun tujuan akhir pendidikan Islam atau evaluasinya adalah terbentuknya manusia paripurna insan kamil.[6]

3.      Manusia Sebagai Pendidik
      Manusia sebagai pendidik atau guru, tentunya ia memiliki hak dan kewajiban. Salah satu hak guru dalam dunia pendidikan adalah gaji. Penerimaan gaji ini menjadi persoalan tersendiri di kalangan filosof, sebut aja Sokrates. Ia adalah salah satu tokoh terkenal yang menolak pemberian gaji untuk guru. Sikap Sokrates ini diikuti oleh filosof muslim, al-Ghazali.
      Pandangan al-Ghazali, bahwa seorang guru tidak hanya diorientasikan pada gaji semata, akan tetapi bukan berarti menolaknya. Pemikiran ini sepertinya relevan pada masa modern sekarang. Walaupun pada masa sekarang sudah terjadi hal yang di luar batas yang telah menjadikan guru sebagai petugas semata yang mendapat gaji dan tanggung jawab tertentu, serta tugas yang dilimitasi dalam dinding sekolah yang merupakan dampak dari komersialisme pendidikan, matrialisme dan modernisasi, sehingga terciptalah jarak antara pendidik dan peserta didik.
      Islam dan dunia modern memiliki perbedaan dalam menempatkan posisi pengajar. Gaji dari negara atau dari organisasi swasta merupakan orientasi utama bagi pengajar, inilah persepsi manusia saat ini. Bahkan yang sangat ironi, mereka bekerja hanya sekedar memenuhi tugas sebagai bentuk tanggung jawab atas gaji yang mereka terima. Tidak ada upaya dan usaha untuk melangkah lebih jauh.
      Akibat komersialisme dan modernisasi inilah, sehingga menciptakan jarak antara pengajar dan pelajar dan menghilangkan ikatan-ikatan yang muncul antara keduanya. Dalam Islam, pengajar tidak sekedar petugas semata. Sosok seorang pendidik merupakan figur yang akan selalu diteladani, yang dapat mentransformasikan Ilmu pengetahuan nilai-nilai sosial, moral dan keagamaan yang berangkat dari pemahaman konsep pendidikan yang benar.
      Larangan seorang pendidik mengharap gaji dalam mengajar menurut al-Mawardi, karena kedudukan ilmu lebih bernilai dan tidak dapat disejajarkan dengan materi. Puncak kenikmatan dan segala keinginan dapat terwujud dengan memiliki ilmu. Seorang yang memiliki ilmu dan mengamalkannya dengan ikhlas, ia tidak akan mengharap balasan dari ilmu yang ia amalkan.
      Karena itulah, bagi al-Mawardi tugas mendidik dengan mengharap ridla Allah sangat mulia, jika pendidik mengajar hanya karena materi, saat gaji yang ia terima tidak sesuai dengan yang ia harapkan, maka ia hanya akan mengajar dengan porsi yang sesuai dengan gaji yang ia terima, hal ini karena motivasi mengajar berorientasi hanya pada materi saja.  Menarik untuk diingat, pada masa Umar Abdul Aziz menjabat sebagai khalifah, ia memberikan gaji kepada salah seorang guru istana, Harits bin Muhammad, namun gaji tersebut ditolak, karena alasan ia akan mendapat balasan dari Allah. [7] Bahkan salah satu tokoh pendidikan Islam Indonesia KH. Hasyim Asy'ari, memberi rambu-rambu untuk para guru dalam mengajarkan ilmunya agar meluruskan niat, tidak hanya mengharapkan materi semata.[8]
      Bukan hanya urusan gaji bagi pendidik yang dipikirkan oleh pemikir Islam dan Barat. Menurut dua tokoh pemikir klasik; Sokrates dan Konfusius, pendidik harus memiliki tujuan untuk menanamkan kepada anak didiknya suatu kecintaan belajar dan hasrat untuk hidup yang mulia. Untuk mencapai tujuan tersebut, kurikulum harus menitikberatkan pada pengembangan intelektual, akhlak dan aspek spiritual anak didik. Kurikulum itu harus disampaikan melalui proses belajar mandiri, perenungan dan menjadikan pribadi yang merdeka.
      Hal tersebut sesuai dengan tujuan pendidikan Islam yang dirumuskan oleh Prof. Muhammad Athiyah al-Abrosyi, ia menyimpulkan menjadi 5 tujuan, yaitu: Pertama, Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia. Kedua, Persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Ketiga, Menumbuhkan ruh ilmiah (scientific spirit) pada pelajaran dan memuaskan keinginan hati untuk mengetahui dan memungkinkan ia mengkaji ilmu. Keempat, Menyiapkan pelajar dari segi professional. Kelima, Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan.[9]
Begitu juga dengan tujuan pendidikan menurut ibn Khaldun adalah: Pertama, memberi kesempatan kepada pikiran untuk aktif bekerja. Karena hal ini penting untuk terbukanya pikiran dan kematangan seseorang yang akhirnya dapat bermanfaat bagi masyarakat. Kedua, memperoleh ilmu pengetahuan dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju dan berbudaya. Ketiga, memperoleh pekerjaan untuk mencari penghidupan.[10]
Menurut Buya Hamka, pentingnya manusia mencari ilmu pengetahuan bukan hanya membantu manusia memperoleh penghidupan yang layak melainkan lebih dari itu, dengan ilmu manusia akan mampu mengenal tuhannya, memperhalus akhlaknya, dan senantiasa berupaya mencari keridhaan Allah sehingga manusia mendapatkan ketentraman dalam hidupnya. Dalam pandangan Hamka, pendidikan terbagi ke dalam dua bagian: Pertama, pendidikan jasmani yaitu pendidikan untuk pertumbuhan dan kesempurnaan jasmani serta kekuatan jiwa dan akal. Kedua, pendidikan ruhani, pendidikan untuk kesempurnaan fithrah manusia dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang didasarkan kepada agama.[11]

4.      Sehat Fisik: Kebutuhan Pokok Manusia
     Setelah mengetahui tentang konsep fithrah manusia, maka selanjutnya akan membahas tentang kebutuhan manusia. Salah satu kebutuhan manusia menurut Maslow adalah kebutuhan Fisiologis (Phisiological needs). Contohnya adalah: sandang (pakaian), pangan (makanan), papan (rumah), dan kebutuhan biologis seperti: buang air besar, buang air kecil dan bernafas.[12] Berbicara tentang fisik berarti membicarakan tentang kesehatan fisik.
     Kebutuhan fisik, dalam hal ini kebutuhan biologis (kesehatan). Siapa yang hidupnya tidak mau sehat? Kebutuhan untuk tumbuh sehat merupakan keinginan semua manusia. Dalam hal ini meliputi mendapatkan makan yang bergizi, papan yang sehat, udara segar, tidur atau istirahat, olah raga dan rekreasi. Pemenuhan kebutuhan fisik ini merupakan modal dasar bagi diperolehnya otak yang sehat.
     Hal ini diperkuat oleh Ibn Sina, pemenuhan kebutuhan dan pembinaan fisik yang berupa olahraga, makan, minum, tidur, dan menjaga kebersihan merupakan modal dasar bagi diperolehnya otak yang sehat.[13] Selain itu, untuk mencapai fisik yang prima dengan cara istirahat yang cukup, konsumsi makanan yang bergizi serta menjauhi makan minum yang dapat menjadikan dirinya mabuk.[14]
     Descartes, seorang filsuf modern asal Perancis, berupaya menanggapi problem itu dengan merumuskan pendapatnya, bahwa pikiran manusia merupakan entitas yang lebih tinggi tingkatannya daripada tubuh. Pikiran mempunyai prioritas atas tubuh. Fakta bahwa kita dapat berpikir menunjukkan bahwa manusia merupakan entitas yang memiliki kesadaran. Ada relasi internal antara kesadaran dan pikiran.
     Dengan kata lain, manusia memiliki akal pikiran dan tubuh. Pemikiran ini kemudian diperkuat melalui essai filsafat Montessori. Program Montessori didirikan oleh seorang dokter dan pendidik, Dr. Maria Montessori pada tahun 1907. Filsafat Montessori merupakan filsafat yang meyakini pentingnya gerakan tubuh, karena diyakini bahwa tubuh yang sehat akan melahirkan otak yang sehat.

5.      Pendidikan: Tanggung Jawab Keluarga dan Negara
Menurut pemikiran Aristoteles, bahwasanya pendidikan adalah tanggung jawab negara. Antara seseorang dan negara, keduanya sebenarnya sama-sama membutuhkan. Dalam diskusi pendidikan Aristoteles, pendidikan bukan hanya sekedar ilmu ansich, akan tetapi merupakan sebuah pelayanan yang mesti ditangani oleh negara dan politik itu sendiri. Kebijakan negara dan politik harus memperhatikan pendidikan yang berkenaan ke moral dan intelektual.
Bahkan keduanya mesti dimasukkan ke content pendidikan itu sendiri. Nilai-nilai kebajikan seharusnya menjadi prinsip dalam kehidupan negara. Kebajikan intelektual bisa diajarkan, sedangkan kebajikan moral dapat diperoleh melalui praktek atau kebiasaan. Akan tetapi bagi Aristoteles, keduanya harus diaplikasikan dengan baik dalam melayani negara atau komunitas. Hal ini berhubung karena manusia sebagai makhluk sosial sekaligus sebagai makhluk yang berpolitik serta untuk mewujudkan kebaikan, maka manusia hanya mungkin dalam sebuah negara atau komunitas.
Pendidikan bukan hanya merupakan tanggung jawab negara. Hal ini juga tanggung jawab keluarga. Republik salah satu karya Plato paling populer.  Meskipun sudah ditulis dua ribu tahun yang lalu. Dialog merupakan akar tranformasi masyarakat yang diyakini oleh para ahli filsafat pendidikan. Contohnya pada program pendidikan, bahwasanya semua anak memulai pendidikan dari dasar yang sama. Demi persamaan inilah, orang tua tidak harus sekedar bisa mempengaruhi pendidikan terhadap anak. Tapi yang terpenting dalam pembinaan terhadap keluarga.

C.     Kesimpulan
Kesimpulan makalah ini adalah bahwa makna fithrah manusia terdapat dalam al-Qur'an surat ar-Rum ayat 30, hal ini senada dengan pemikiran Tabularasa, John Locke merupakan salah seorang filosof yang menganut paham empirisme. Dalam pendidikan terdapat tiga lingkungan "tri pusat pendidikan" atau tiga pusat lembaga pendidikan, yaitu: lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.[15] Dalam hal ini penyusunan kurikulum pendidikan Islam harus juga disesuaikan dengan lingkungan peserta didik, sesuai dengan kebutuhan sosial masyarakat di wilayah tertentu. Adapun tujuan akhir pendidikan sebagai evaluasinya untuk mencapai insan kamil.
Manusia sebagai pendidik atau guru, tentunya ia memiliki hak dan kewajiban. Salah satu hak guru dalam dunia pendidikan adalah gaji. Penerimaan gaji ini menjadi persoalan tersendiri di kalangan filosof, sebut aja Sokrates. Ia adalah salah satu tokoh terkenal yang menolak pemberian gaji untuk guru. Sikap Sokrates ini diikuti oleh filosof muslim, al-Ghazali. Selain itu, yang mendukung pemikiran ini adalah al-Mawardi,Kiai Hasyim Asy'ari dan lain sebagainya. Di samping itu, seseorang dalam dunia pendidikan membutuhkan kesehatan fisik sebagaimana filsafat Montessori. Di samping itu, pendidikan merupakan tanggung jawab keluarga dan negara, sebagaimana pemikiran Aristoteles dan Plato.

Daftar Pustaka

al-Syaibani, Omar Mohammad al-Toumy. 1979. Falsafah Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Asrohan, Hanun. 1999. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu.
Az-Zanuji. tt. Ta’limul Muta’allim Thariqut Ta’allum. Sumenep: Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.
Bakry, Sama'un. 2005. Menggagas Konsep Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Kurniawan, Syamsul  & Mahrus, Erwin. 2011. Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Nata, Abuddin. 2000. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, Jakarta: Raja grafindo Persada.
 ---, 1997. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Nizar, Syamsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis. Jakarta: Ciputat Press.
Sarwono, Sarlito W. 2002. Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang.
Suharto, Toto. 2003. Epistemologi Sejarah Kritis Ibn Khaldun. Jogjakarta: Fajar Pustaka Baru.
Syalabi, Ahmad. 1986. At-Tarbiyah Wa Ta’lim cet ke 8 (Kairo: Maktabah An-Nahdhotul Misriyah.
Zuhairini. FIlsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1995.






[1] Hanun Asrohan. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999, hlm, 34-37
[2] Fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.
[3] Az-Zanuji. Ta’limul Muta’allim Thariqut Ta’allum. Sumenep: Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. tt. Hlm 25
[4] Sama'un Bakry.Menggagas Konsep Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005, hlm, 97.
[5] Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibani. Falsafah Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1979, hlm, 518.
[6] Syamsul Haji Nizar. Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis. Jakarta: Ciputat Press, 2002, hlm, 135.
[7] Ahmad Syalabi, At-Tarbiyah Wa Ta’lim cet ke 8 (Kairo: Maktabah An-Nahdhotul Misriyah,1986), 236.
[8] Syamsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press, 2002, hlm, 107.
[9] Zuhairini. FIlsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1995, hlm, 164-165.
[10] Toto Suharto, Epistemologi Sejarah Kritis Ibn Khaldun. Jogjakarta: Fajar Pustaka Baru, 2003,  hlm, 241
[11] Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,2011, hlm, 229.
[12] Sarlito W. Sarwono, Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang, 2002), 176-178.
[13] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, Jakarta: Raja grafindo Persada, 2000, hlm, 99.
[14] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997, hlm, 82
[15] Sama'un Bakry.Menggagas Konsep Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005, hlm, 97.

1 komentar:

  1. Online Casino UK | Get up to £100 in Free Bets when you join today
    We are a UK gambling brand. We have partnered with the leading 카지노 UK クイーンカジノ gambling operator 우리카지노 in online betting markets to provide them with an

    BalasHapus