Iwan
Kuswandi
Abstraks:
Hubungan Islam
dan Barat juga kita temukan dalam pembahasan fithrah manusia. Banyak ulama
Islam yang menukil ayat al-Qur’an untuk membicarakan makna fithrah manusia.
Namun di dunia Barat kita juga menemukan sosok John Locke yang menghasilkan ide
tabularasa. Salah satu firman Allah dalam Al-Qur’an tentang fitrah manusia
terdapat pada QS. Ar-Rum ayat 30. Ada tiga dasar utama yang melandasi
periodisasi kehidupan manusia. Adapun pembahasan pada makalah ini hanya
menguraikan tentang periodesasi perkembangan manusia, yaitu dari masa anak,
remaja sampai dewasa. Kemampuan belajar manusia dibagi dua, yaitu; anak usia
prasekolah, disebut sebagai usia prakarya dan anak usia sekolah. Pada usia
sekolah inilah memerlukan dukungan orangtua dan keseriusan guru pada saat
mendidik anak tersebut. Untuk itu, sekolah yang maju dan bermutu juga mempunyai
peran dalam suksesi belajar anak.
A. Pendahuluan
Sebagai salah satu makhluk
ciptaan Allah yang dimuliakan oleh-Nya, manusia perlu kiranya mengkaji faktor-faktor
internal dalam dirinya. Ia perlu merenungi hakikat yang sebenarnya terdapat
dalam dirinya sendiri. Sehingga ia tidak dapat disamakan dengan makhluk-makhluk
Allah yang lain. Dan kelebihan yang dimiliki oleh manusia ini telah ada sejak
ia berada dalam rahim ibunya. Salah satu kelebihan Allah yang diberikan kepada
manusia sejak ia berada dalam kandungan ibunya adalah fithrah.
Namun, fithrah atau naluri yang dimiliki manusia ini tidak akan
dapat dimaksimalkan tanpa bantuan dari orang lain yang berada dalam
lingkungannya. Maka kiranya semua potensi yang ada dalam diri manusia tidak
akan dapat dimaksimalkan dengan baik tanpa ada bantuan orang-orang dari luar
dirinya. Potensi adalah internal dan bantuan pengoptimalannya adalah eksternal.
Lingkungan sekitar merupakan hal eksternal yang paling menentukan, terutama hal
eksternal yang dimaksud adalah pendidikan. Menurut defenisi John Dewey,
bahwasanya pendidikan adalah kehidupan manusia itu sendiri, bukan hanya sekedar
persiapan untuk kehidupan masa depannya. Pendidikan akan selalu bersanding
dengan kehidupan manusia dan tidak akan berhenti, karena masyarakat akan selalu
berkembang dan dinamis.[1]
B. Pembahasan
1.
Fitrah manusia
Sungguh besar karunia yang diberikan Allah
kepada makhluk-makhlukNya. Namun di antara nikmat-nikmat yang ada, nikmat
terbesar diberikan oleh Allah kepada manusia. Sebab al-Qur’an banyak
menjelaskan bahwa manusia diberikan oleh Allah kemampuan dasar dan keunggulan
yang lebih banyak dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dan diantara
kelebihan-kelebihan yang diberikan oleh kepada manusia, yang paling utama
adalah fithrah.
Allah menciptakan manusia dalam
keadaan fithrah, ia dilahirkan dalam keadaan yang shaleh dan salim. Bahkan sejak
ia dalam rahim ibunya, Allah sudah membekalinya dengan ketakwaan yang tinggi. Beberapa
ulama memaknai fithrah dengan makna yang berbeda-beda. Namun memaknai fithrah
sebagai kemampuan yang dimiliki oleh seorang manusia yang berkaitan dengan
kemampuannya dalam membedakan hal yang baik dan buruk. Singkatnya, sejak kecil,
manusia sudah memiliki kepekaan dan pemahaman yang mendalam tentang mana yang
baik dan buruk. Sehingga tidak ada alasan bagi seorang manusia untuk melakukan
pelanggaran-pelanggaran dengan mengatasnamakan ketidaktahuan. Sebab oleh Allah
SWT, menurut DR. Nu’man Abdur Ar-Razzaq, manusia sudah diberikan kemampuan
untuk membedakan hal yang baik dan buruk [2]
Mengenai
kemampuan manusia dalam membedakan hal yang baik dan buruk ini sesuai dengan
firman Allah dalam surat al-Balad ayat 10, yang artinya: “Dan kami Telah menunjukkan kepadanya dua jalan (yang dimaksud
dengan dua jalan ialah jalan kebajikan dan jalan kejahatan).”
Oleh Ar-Razi, ayat
tersebut ia takwilkan bahwasanya jalan baik dan buruk itu pada dasarnya sudah
dapat dibedakan dengan jelas. Tanpa mempelajarinya pun manusia sudah mengetahui
tentang mana yang baik dan buruk. Perbedaan cukup jelas dan tampak. Perbedaan
antara keduanya bukanlah hal yang samar. Bahkan perbedaan antara keduanya sudah
dapat dirasakan oleh manusia karena adanya fithrah dalam dirinya.
Kejelasan perbedaan
antara kebaikan dan keburukan oleh Ar-Razi diibaratkan jalan setapak yang
tinggi [3].
Bukankah jalan yang tinggi dapat kita lihat dengan jelas dalam keadaan sejauh
apapun? Bukankah kebesaran dan ketinggian gunung menjadi hal yang sangat jelas
di pelupuk mata? Begitulah kebaikan, ia menjadi hal yang sangat jelas bagi
kita. Pun dengan keburukan. Sehingga akan sangat lucu jika banyak manusia yang
menjadikan ketidaktahuan sebagai alasan dari perbuatan-perbuatan buruk yang ia
lakukan. Juga kebaikan-kebaikan yang enggan ia kerjakan.
Pembahasan di atas
memaparkan pendapat DR. Nu’man Ar-Razzaq bahwa fithrah bermakna kepekaan dan
kemampuan manusia untuk membedakan hal yang baik dan buruk. Dan kali ini, kita akan mencoba untuk
menguak fakta lain mengenai fithrah yang diungkapkan oleh ulama lainnya.
Ulama lain memaknai
fithrah sebagai agama. Dalam artian, sejak manusia dilahirkan di bumi ini.
mereka sudah memiliki naluri untuk beragama. Tergantung bagaimana manusia
mengondisikannya. Jika ia dalam lingkungan dan kawasan orang-orang Islam, maka
dia akan menjadi orang muslim, sebaiknya jika ia hidup bersama orang-orang
Yahudi, Nasrani, Majusi, Budha, Hindu dan lain-lainnya. Maka atas agama itulah
mereka nantinya akan berpegang.
Mengenai argumen yang
berpedoman bahwa fithrah manusia adalah naluri beragama, kita bisa melirik
kembali pada salah satu ayat Al-Qur’an. QS. Ar-Rum ayat 30, yang artinya:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada
agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia
menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang
lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”[4]
Firman Allah di atas menunjukkan bahwa sejak dilahirkan,
manusia sudah memiliki fithrah yang benar. Manusia telah memiliki naluri
beragama yang Allah ciptakan dalam dirinya. Ia dilahirkan dengan naluri agama
yang lurus yang Allah jadikan agama itu sebagai fitrah dalam dirinya. Sehingga
dari sini telah jelas bahwa antara agama dan fithrah manusia terdapat hubungan
yang jelas. Fithrah dan agama adalah dwi tunggal yang tidak dapat dipisahkan.[5]
Sebab
naluri beragama yang ada dalam diri manusia itu akan selalu membuka diri
terhadap agama yang ada –agama tauhid. Sehingga jika dianalogikan, naluri
beragama adalah wadah dan agama adalah isinya. Dalam diri manusia, wadah itu
telah ada sehingga manusia tinggal menerima isinya. Jika ia diisi dengan agama
Islam, maka dia akan Islam. Jika ia diisi dengan agam Yahudi, maka ia akan
Yahudi. Jika ia diisi dengan Nasrani maka ia akan menjadi seorang Nasrani. Dan
lain sebagainya.
Sehingga
dalam usia yang masih kecil, atau bahkan ketika manusia masih berada dalam
rahim ibunya, ia sudah mendapatkan fithrah itu. Dalam dirinya telah diciptakan
oleh Allah sebuah naluri yang kuat untuk beragama.
Tentang
hal ini, dapatlah kita tahu bahwa sesungguhnya kehidupan beragama adalah
kehidupan yang normal dan sesuai dengan hukum Allah. Sebab sejak lahir, manusia
telah diciptakan Allah dengan naluri beragama dalam dirinya. Sehingga agama menjadi
sebuah kebutuhan ruhani dalam diri manusia yang tidak bisa dihilangkan begitu
saja. Dan teori tersebut – tentang kebutuhan manusia akan agama, telah
dipaparkan oleh agama Islam 14 abad yang lalu dalam kitab suci yang diturunkan
oleh Allah kepada Sang Rasul Muhammad SAW, bahkan Islamlah agama pertama kali
yang mengikrarkan agama sebagai kebutuhan fithrah manusia. [6]
Potensi yang ada dalam
diri manusia amatlah beragam. Akan tetapi potensi yang dimiliki oleh manusia,
sangat ditentukan oleh hidayah dari Allah. Sebagaimana Al-Maraghi memaknai
hidayah sebagai petunjuk untuk sampai apa yang diinginkan. Dalam hal ini, dia membaginya
ke dalam empat bagian:
Pertama, hidayah
ilham. Potensi ini berkaitan perasaan dan naluri dalam manusia serta kaitannya
terhadap kebutuhannya dalam hidup. Mudahnya, sejak manusia dilahirkan di muka
bumi ini. Mereka memiliki naluri untuk selalu memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Bahkan bayi yang lemah dan tak berdaya itu memiliki cara sendiri untuk memenuhi
kebutuhan makan dan minumnya. Yaitu dengan menangis dan menjerit. Itulah bukti
bahwa manusia, sejak ia dilahirkan memiliki naluri untuk selalu memenuhi
kebutuhan hidupnya.
Kedua, hidayah
indera. Hidayah ilham (naluri untuk memenuhi kebutuhan) dengan hidayah indera
adalah dua hidayah yang tidak hanya dimiliki oleh manusia. Kedua hidayah ini
juga dimiliki oleh hewan. Bahkan yang dimiliki oleh hewan lebih sempurna daripada
yang dimiliki oleh manusia sendiri. Tapi demikian, ada dua hidayah lain yang
dimiliki oleh manusia tapi tidak dimiliki oleh hewan. Karena dengan dua potensi
itu saja, manusia tidak akan mampu mengarungi samudera kehidupan yang penuh
tantangan ini. Mari kita bahas potensi manusia selanjutnya.
Ketiga,
adalah hidayah akal . potensi inilah yang tidak dimiliki oleh hewan dan hanya
dimiliki oleh manusia. Potensi akal, seperti dijelaskan dalam tafsir Al-Maraghi
adalah lebih tinggi tingkatannya dibandingkan potensi ilham dan indera. Karena
seringkali indera salah dalam menerima sesuatu sehingga akallah yang
meluruskan. Tentang hal ini kita perlu mengambil contoh dari kayu yang lurus
dan dicelupkan ke dalam air. Dari dalam air tersebut, indera kita menerima
bahwa kayu tersebut bengkok dan tidak lurus. Sehingga dari sini kita tahu bahwa
apa yang diterima oleh indera adalah salah, sehingga akal perlu meluruskannya.
Bukankah kayu yang bengkok hanyalah hasil dari pembiasan. Sedang yang asli ia
adalah sebuah kayu yang lurus? Demikianlah.
Keempat, hidayah
terakhir adalah hidayah beragama dan bersyariat. Inilah hidayah teragung yang
diberikan oleh Allah kepada umat manusia. Hidayah ini menjadi hal yang wajib
bagi siapa saja yang hawa nafsunya telah merenggut kesehatan akalnya (mereka
yang lebih menuhankan nafsu daripada akal). Hidayah ini menjadi hal yang lazim
bagi mereka yang telah tunduk kepada hawa nafsu dan syahwat yang menipu.
Hidayah ini pun menjadi barang yang harus bagi mereka yang menempuh jalan-jalan
kesesatan dan dosa. Sehingga dengan adanya hidayah ini mereka nanti pada
akhirnya akan terbuka hatinya terhadap syariat-syariat dalam agama. Sehingga ia
nantinya sadar bahwa sehabis usainya kehidupan di dunia ini, akan tampak dan
akan dibuka kehidupan baru yang lebih nyata. Yaitu alam akhirat.[7]
Sedangkan menurut Hasan
Basri, manusia diberikan oleh Allah tiga potensi dalam dirinya. Potensi-potensi
itu menjalankan fungsinya masing-masing. Berikut akan dipaparkan
potensi-potensi tersebut. Pertama, potensi akal. Potensi akal adalah
salah satu potensi yang dimi liki manusia yang dengannya ia dapat mengenal
Tuhannya. Potensi ini sudah diberikan oleh Allah sejak ia berada dalam
rahimnya. Sehingga disimpulkan bahwa sejak manusia berada dalam rahim ibunya,
Allah telah memberikan dalam dirinya sebuah kemampuan untuk mengenal Tuhan,
mengesakan Tuhan, mencintai Tuhan bahkan mematuhi Tuhan. Sehingga potensi
tersebut, jika tidak dioptimalkan –ketika ia lahir, maka akan menjadi sia-sia.
Bukankah setiap potensi harus dioptimalkan?.
Sehingga dapat
diketahui, bahwa kemampuan internal (naluri untuk mengenal Tuhan) itu tidak
akan dapat tersalurkan dengan baik jika dalam realitanya tidak ada pihak-pihak
yang berupaya untuk mengoptimalkan potensi itu. Sehingga dalam hal ini, manusia
(seorang bayi) memerlukan unsur ekseternal, yang dalam hal ini merupakan
orang-orang yang selalu berusaha untuk menuntun dia dalam optimalisasi potensi
akal yang ia miliki.
Kedua,
potensi syahwat. Sebagai satu di antara makhluk-makhluk Allah, manusia tentu
memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi dalam hidupnya. Maka adanya potensi
syahwat dalam diri manusia akan menjadikan manusia sebagai makhluk yang dinamis
dan selalu bergerak untuk memenuhi kebutuhannya. Manusia bukan makhluk statis
yang hanya diam tanpa gerak ketika ia membutuhkan sesuatu. Namun meski
demikian, penyaluran hasrat untuk memenuhi kebutuhan juga harus diarahkan sebaik
mungkin. Sehingga manusia tidak melulu dikuasai oleh potensi syahwat saja.
Maka potensi syahwat
yang telah ada dalam diri manusia, -layaknya potensi akal, juga membutuhkan
bimbingan dan tuntunan agar kebutuhan yang dipenuhi cukup dan tidak melewati
koridor yang telah ditentukan. Sehingga dalam hal ini, untuk kesekian kalinya
seorang manusia (bayi) membutuhkan unsur eksternal yang akan selalu membantu
dia untuk menyalurkan potensi syahwat pada hal-hal yang baik saja.
Ketiga,
potensi gadhab. Potensi ini adalah berupa kepekaan dan kecenderungan
manusia untuk selalu menjauhi dirinnya dan melindungi dirinya dari hal-hal yang
selalu membahayakan dirinya. Semua manusia tentu tidak ingin celaka, ia tentu
ingin selalu selamat dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Dan salah satu hal
yang menggerakkan dia untuk selalu menyelematkan diri adalah potensi gadhab
ini. Potensi gadhab ini akan
menjadikan dia memiliki naluri untuk selalu menjaga diri dari hal-hal
yang membahayakan dirinya.
Untuk potensi ketiga
ini, yaitu potensi gadhab, manusia juga tidak seharusnya dilepaskan
begitu saja dari tuntunan orang-orang di sekitarnya. Sebab banyak orang yang
kurang diarahkan dan kurang mendapatkan bimbingan dari orang tuanya sehingga ia
kerapkali kurang optimal dalam memanfaatkan potensi gadhab yang
dimilikinya. Sehingga pada akhirnya ia sudah tidak sayang dan enggan untuk
melindungi dirinya dari hal-hal yang membahayakan dirinya. Semisal mengonsumi
narkotika, minum-minuman keras, atau memakan babi. Semua pekerjaan itu tidak
akan melindungi dirinya dan justru akan menjerumuskan dirinya. Dan tentu
orang-orang yang melakukan pekerjaan tersebut bisa dipastikan bahwa potensi gadhab
dalam dirinya tidak dioptimalkan dengan baik oleh orang-orang di sekitarnya
semasa ia masih kecil dulu.
Dan dari paparan di atas
dapat disimpulkan bahwa setelah manusia lahir ke dunia, maka perlu bantuan dari
luar dirinya, agar ketiga potensi tersebut dapat teraktualisasi dengan baik.
Dalam filsafat Islam, orang tualah yang berkewajiban untuk memberikan pengetahuan
serta mengoptimalkan ketiga potensi di atas.[8]
Hal ini sesuai dengan Sabda Nabi, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan
fithrah, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani atau Majusi”
(HR. Bukhari)[9]
Berdasarkan paparan di atas,
kita dapat menyimpulkan bahwa potensi-potensi yang dimiliki oleh manusia ini
tidak bisa dilepaskan dari unsur-unsur eksternal. Karena tanpa adanya unsur
eksternal, maka unsur internal itu tidak akan bisa dioptimalkan dengan baik.
Maka manusia sejujurnya adalah makhluk yang membutuhkan sekelilingnya. Seperti
halnya seorang bayi butuh ibunya. Tanpa sang ibu, bayi tersebut tentu akan
kesulitan untuk mengoptimalkan potensi-potensi dalam dirinya.
Maka dari sini, kita
dapat menyimpulkan bahwa keberhasilan dalam mengoptimalkan potensi-potensi
dalam diri manusia tidak bisa dilepaskan dari unsur eksternal yang menjadi
penanda bahwa manusia adalah makhluk sosial. Dari sini, kita tahu bahwa sejak
kecil manusia selalu bergantung pada sekelilingnya. Sehingga jelas sudah, bahwa
manusia adalah makhluk sosial.
Maka dikaitkan dengan
unsur sosial, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwasanya fithrah manusia adalah
makhluk yang sangat membutuhkan interaksi serta memerlukan hubungan dengan
manusia lainnya. Hal ini karena diyakini bahwasanya manusia tidak mungkin mampu
untuk memenuhi segala kebutuhannya dengan kemampuan dirinya sendiri, terutama
yang dibutuhkan untuk keberlangsungan hidupnya, seperti; kebutuhan papan,
sandang dan pangan.[10]
Karena itu, manusia harus menyadari bahwasanya potensi yang dimilikinya tidak sempurna. Tetapi memiliki
keterbatasan atas apa yang dimilikinya. Sehingga manusia selalu membutuhkan
bantuan dan pertolongan dari orang lain dalam upaya pemenuhan semua
kebutuhannya. Keadaan ini menyadarkan bahwa manusia merupakan makhluk sosial.
2.
Manusia menurut filsafat pendidikan Islam
Teori mengenai
fithrah manusia yang dijelaskan dalam surat Ar-Rum, ayat 30 sangat sesuai
dengan filsafat yang dikemukakan oleh John Locke (1632-1704). John Locke
merupakan salah seorang filosof yang menganut paham empirisme. Ia berkeyakinan
dan berpedoman bahwa watak dalam diri manusia sangat ditentukan oleh faktor-faktor
eksternal yang berada di luar diri mereka.
Empirisme yang
dianut oleh John Locke ini menjelaskan bahwa manusia yang terlahir di dunia
adalah sosok yang sepenuhnya suci. Ia bersih dan putih, sehingga gampang “kotor
dan berwarna”, dalam artian ia akan gampang terpengaruh oleh lingkungan tempat
dia hidup. Sehingga baik tidaknya seorang anak itu sangat ditentukan oleh
sekelilingnya. Baik tidaknya seorang manusia sangat berpatok pada bagaimana
orang-orang sekitarnya mewarnai dirinya. Konsep yang demikian biasa disebut
dengan Tabu Larasa. Menurut John Locke, manusia yang dilahirkan di muka bumi
ini bisa diibaratkan dengan kertas putih. Kertas yang putih itu akan berwarna
berdasarkan warna yang diberikan oleh sekelilingnya. Maka kiranya,
pengalaman-pengalaman hidup yang dialami oleh manusia, baik bersama ibu, ayah,
kawan-kawan bahkan musuhnya adalah faktor eksternal yang akan “mewarnai”
dirinya.
Menurutnya, manusia memiliki dua pengalaman:
pengalaman lahiriah (sensation) dan pengalaman batiniah (reflection).
Kedua sumber pengalaman itu akan memengaruhi jiwa seorang manusia. Lebih
jelasnya, “akan mewarnai” pola pikirnya. Sebab, kekuatan faktor eksternal dalam
membentuk karakter dalam diri seseorang lebih kuat dari pada faktor
internalnya. Tentang hal ini, kita bisa melihat banyak contoh. Misalnya, banyak
orang yang wataknya baik. Sejak kecil ia dikenal baik, karena unsur internal
dalam dirinya baik. Ia juga dilahirkan dari keluarga yang baik. Namun ketika
dewasa dan menginjak remaja, ia tiba-tiba menjadi sosok yang brutal dan
anarkis. Ternyata seteleh diselidiki, didapat sebuah kesimpulan bahwa faktor
eksternal dari luar diri orang tersebut telah mengalahkan unsur internal dalam
dirinya.
Kanyataan ini
menjadikan kita semakin tahu bahwa unsur internal bersifat pasif, oleh sebab
pengaruhnya bagi perkembangan watak manusia sangatlah kecil, berbeda dengan
unsur eksternal yang memiliki pengaruh yang kuat dalam membentuk kepribadian
seseorang.[11]
Hal ini senada dengan ajaran filsafat Pendidikan Islam bahwasanya, orangtua – yang
tak lain adalah faktor eksternal, adalah sosok yang menggoreskan tulisan di
atas lembaran putih buah hati yang ia lahirkan
Dari sini, maka tak salah jika Rasulullah
mengatakan bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Sebab ibu adalah
faktor eksternal pertama yang paling sering menjaga serta menjalin komunikasi
bersama buah hatinya. Sehingga, bisa diperkirakan jika sang ibu baik, maka
anaknya pun akan baik. Sebaliknya jika sang ibu jelek, maka anaknya pun akan
berakhlak jelek.
3.
Perkembangan manusia
Perkembangan adalah
suatu proses perubahan pada seseorang ke arah yang lebih maju dan lebih dewasa.[12]
Begitu juga dengan perkembangan manusia. Secara garis besar, ada tiga dasar
utama yang melandasi periodisasi kehidupan manusia. Pertama, bersadar
perkembangan raga (biologis). Kedua, berdasar perkembangan Jiwa (psikologis)
dan Ketiga, berdasar cara menyikapinya (didaktis).[13]
Adapun pembahasan kali ini akan menguraikan tentang periodesasi perkembangan
manusia, yaitu dari masa anak, remaja sampai dewasa.
a. Masa
Anak
Menurut Aristoteles,
manusia secara biologis, ia akan memasuki fase anak, ketika ia baru lahir
sampai ia berumur 14 tahun, yaitu pada saat kalenjar-kalenjar kelaminnya sudah
mulai aktif bekerja. Sedangkan perkembangan secara psikologis, seseorang
dianggap anak-anak, ketika ia baru lahir sampai masa sekolah dasar. [14]
Setiap manusia yang
memasuki fase anak akan memiliki kemampuan berbahasa. Hal ini merupakan
kemampuan alamiah yang mesti dimiliki oleh setiap anak. Pada masa anak inilah,
pengenalan bahasa perlu ditanamkan dan dipraktikkan dengan baik, karena hal ini
merupakan modal utama menghadapi masa remaja mereka.
b. Masa
Remaja
Menurut Syamsu Yusuf
yang dikutip Iskandar, bahwasanya perkembangan individu secara didaktis, ia
akan memasuki masa remaja apabila sudah menginjak usia jenjang pendidikan
menengah dan masa usia jenjang pendidikan tinggi.[15]
Pada usia remaja inilah,
ada perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan. Hal ini sesuai dengan apa
yang diutarakan oleh Alizabeth B. Hurlock, bahwasanya anak remaja yang sudah
memasuki sekolah SMA, ia akan memikirkan masa depan mereka secara
sungguh-sungguh. Dalam hal pekerjaan, anak laki-laki lebih sungguh-sungguh
dibanding dengan anak perempuan, karena anak perempuan seringkali memandang
pekerjaan hanya sebatas mengisi kekosongan waktu saja sebelum mereka menikah.[16]
c. Masa
Dewasa
Dalam Islam, umur
manusia dianggap matang dan dewasa, kalau sudah umur 40 tahun. Hal ini dapat
dikaji dalam sejarah hidup Nabi Muhammad, beliau menerima tugas kenabian ketika
berusia 40 tahun. Bahkan al-Qur’an mengabadikan bahwa puncak kedewaan seseorang
ketika dia berumur 40 tahun, tentang ini kita dapat menemukannnya dalam surat
al-Ahqaaf ayat 15, yang artinya:
“Sehingga apabila dia
Telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku,
tunjukilah Aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang Telah Engkau berikan
kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya Aku dapat berbuat amal yang saleh
yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada
anak cucuku. Sesungguhnya Aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya Aku
termasuk orang-orang yang berserah diri".
Untuk itu, seseorang
yang sudah berumur 40 tahun dan sudah dewasa, sebaiknya ia selalu berusaha
menjadi dan memberi contoh yang baik dalam belajar dan beribadah, bahkan pada
usia inilah manusia diharapkan untuk selalu menambah kualitas dan intensitasnya
dalam berdoa.[17]
Bahkan al-Ghazali dalam sebuah kitabnya menjelaskan tentang hadits Nabi
Muhammad yang berisi bahwasanya, jika manusia sudah sampai pada usia 40 tahun,
tetapi kejelekannya mengalahkan kebaikannya, maka besiap-siaplah dia untuk
masuk neraka.[18]
4.
Kemampuan belajar manusia
Sebelum membahas lebih
jauh tentang kemampuan belajar manusia. Perlu kiranya mengingat kalimat yang
sangat mendasar dari seorang filosof Yunani, Socrates. Ia mengatakan bahwa
belajar yang sebenarnya ialah belajar tentang manusia.[19]
Pembahasan ini akan membahas tentang kemampuan belajar manusia, yang penulis
bagi ke dua bagian besar. Masa prasekolah dan masa sekolah (tidak dibagi sesuai
dengan pembagian perkembangan manusia seperti uraian di atas).
Setelah mengetahui
pembagian perkembangan manusia. Untuk itu, pembahasan ini akan dimulai dari
usia anak pada lima tahun pertama, yang disebut The Golden Years. Pada
usia inilah, seorang anak memiliki potensi yang besar untuk berkembang. Pada
usia ini pulalah, 90% dari fisik otak anak sudah terbentuk. Untuk itu, seorang
yang berada di lingkungan anak yang sedang memasuki masa emas ini, harus ikut
serta mengarahkan dan mengoptimalkan agar kemampuan yang dimiliki oleh seorang
anak pada usia tersebut bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk perkembangan
mereka. Hal ini tentunya yang paling besar perannya dalam rangka pengoptimalan
pengembangan anak pada usia lima tahun pertama adalah peran kedua orangtua.[20]
Anak usia prasekolah,
disebut sebagai usia prakarya. Setiap hari, bahan apa saja bisa menjadi
sarananya menuangkan kreativitas. Misalnya, jika anak gemar melukis layaknya
“Sang Maestro”, maka semua tumpukan kertas kosong bisa disulap menjadi karya
dengan kreativitas tinggi. Demikian juga dinding-dinding (tembok) yang bisa
terjangkau oleh si kecil, menjadi media kreativitasnya.[21]
Pendidikan
dalam arti sempit, banyak orang mengindentikkan dengan dunia persekolahan.
Pendidikan terbaik merupakan suatu hal yang banyak diimpikan oleh banyak orang,
berbagai cara dan upaya banyak dilakukan untuk mencapai impian tersebut.
Sebagian besar dari orang tua dan bahkan pelaku akademis itu sendiri bisa
melakukan apa pun untuk mewujudkan keinginannya untuk bisa mengeyam pendidikan
yang terbaik. Munif
Chatib memberikan ilustrasi bahwa pemilihan sekolah untuk anak yang dilakukan
oleh orangtua ibarat orang masuk ke toko swalayan dan ingin membeli sesuatu.
Pasti, yang pertama-tama dilihat oleh konsumen adalah bungkusnya, menarik atau
tidak. Setelah tertarik pada bungkus, baru mereka melihat isinya. Begitu
melihat isinya yang luar biasa, pasti mereka akan membeli.[22]
Dari ilustrasi tersebut,
berarti tugas utama seorang orangtua, harus benar-benar teliti pada saat
memasukkan anaknya ke sebuah sekolah, ia harus mempertimbangkan nama sekolah
tersebut, namun yang tak kalah penting, orangtua harus mampu mengukur kualitas
dan mutu pada sebuah sekolah yang akan dimasukkan anaknya di dalamnya. Karena
berangkat dari ilustrasi di atas pula, maka sebuah sekolah harus segera
berbenah diri. Hal ini agar mengundang daya tarik para orangtua murid. Sehingga
nantinya akan banyak orangtua yang memasukkan anaknya ke sebuah sekolah yang
maju dan bermutu. Bagaimana cara membenahi sebuah sekolah agar dibilang maju
dan bermutu? Kunci utamanya terletak pada guru. Sekolah unggul yang menganut konsep
“the best process” dapat berhasil apabila didukung oleh kualitas guru
yang professional. Menjadi guru yang professional berarti menjadi guru yang
tidak pernah berhenti belajar. Asset terbesar dan paling bernilai di sebuah
sekolah adalah guru yang berkualitas.[23]
Kalau sudah orangtua
serius memilih sekolah untuk anaknya dan guru yang berkualitas yang kemudian
mendidik anak tersebut, sehingga dari adanya dua unsur tersebut menjadikan
motivasi bagi seorang anak untuk menjadi anak rajin dan baik. Maka tak ayal
akan lahir sebuah pendidikan berkualitas. Kalau sudah terjadi semacam ini,
barulah pendidikan dan pengajaran dianggap sukses. Dan hal ini sesuai dengan
pendapat Az-Zarnuji bahwasanya pendidikan tidak bisa dilepaskan dari
kesungguhan dari tiga unsur yaitu; murid, guru dan orang tua.[24]
5.
Fungsi pendidikan dalam kehidupan manusia
Sebenarnya
pendidikan adalah hal paling penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan
penting bagi seseorang, karena manusia tidak terlahir dalam keadaan berilmu dan
berpendidikan. Untuk itu sudah seharusnya, manusia harus melakukan latihan yang
panjang dan belajar yang terus-menerus (berkesinambungan) untuk mencapai hidup
yang lebih baik di lingkungan dan masyarakatnya. Pendidikan juga penting bagi
masyarakat, karena masyarakat mampunyai peranan penting dalam perkembangan
setiap individu dari segala sektornya.[25]
Manusia adalah
hasil dari proses pendidikan.[26]
Pendidikan, sebagai proses memanusiakan manusia, tak henti-hentinya menjadi
bahan yang terus dikaji dan dikembangkan dalam kehidupan manusia. Pendidikan
menurut Peter adalah sebuah upaya membebaskan pikiran dari ketidaktahuan untuk
mencapai kemandirian berpikir. Tentunya sudah menjadi rahasia umum, bahwa semua
orang dari waktu ke waktu tumbuh berkembang menuju ke suatu titik kedewasaan
atau kematangan. Ciri pokok seseorang dianggap memiliki kedewasaan apabila ia
sudah memiliki kemandirian berpikir. Karena dari kemandirian berpikir inilah,
seseorang akan memiliki kemandirian hidup, ia akan merasa mampu hidup dengan
dirinya sendiri, tanpa bergantung kepada orang lain. Inilah sebenarnya yang
dimaksud oleh Peter, bahwa pendidikan itu dapat berfungsi sebagai media menuju kemandirian
berpikir.[27]
Di samping itu, pendidikan
merupakan proses yang dapat merangsang atau membangunkan kemampuan serta
potensi yang ada dalam diri anak. Semua orang tua, tentunya menginginkan
anak-anaknya menjadi orang yang berguna, berbakti kepada kedua orang tua, agama
dan negara. Merupakan suatu kewajiban bagi orang tua untuk mendidik anak, agar
supaya, jika besar nanti, anak tersebut sesuai dengan apa yang di harapkan.
Patuh kepada ajaran-ajaran agama dan tidak melanggar hukum atau norma-norma
yang berlaku di masyarakat. Untuk itu, orang tua dituntut agar mampu menggali
segala potensi yang dimiliki oleh anaknya, tentunya hal ini dapat ditempuh
melalui pendidikan yang baik. [28]
Pelaksanaan
kegiatan belajar adalah sesuatu yang sangat penting dalam dunia pendidikan.
Dalam kegiatan belajar formal ada dua subjek yang berinteraksi, yaitu pendidik
dan peserta didik. Pendidik adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan
kepada peserta didik. Sedangkan peserta didik adalah orang yang menerima
pengetahuan tersebut. Mudahnya, pendidikan adalah transmisi pengetahuan dari
orang yang tahu (yang memiliki pengetahuan) kepada orang yang tidak tahu (belum
memiliki pengetahuan).[29]
C. Kesimpulan
1.
Fithrah manusia yang
diberikan oleh Allah menegaskan bahwasanya manusia memiliki naluri beragama. Di
samping itu, fithrah manusia juga memiliki arti dua potensi (baik dan buruk)
yang dimiliki oleh manusia. Sehingga dibutuhkan peran orang tua untuk
mendidiknya.
2.
Teori mengenai fithrah manusia yang dijelaskan
dalam surat Ar-Rum, ayat 30 sangat sesuai dengan filsafat yang dikemukakan oleh
John Locke, yang dikenal dengan konsep Tabula Rasa. Menurutnya, manusia
memiliki dua pengalaman: pengalaman lahiriah (sensation) dan pengalaman
batiniah (reflection).
3.
Ada tiga dasar utama yang melandasi periodisasi
kehidupan manusia. Adapun pembahasan pada makalah ini hanya menguraikan tentang
periodesasi perkembangan manusia, yaitu dari masa anak, remaja sampai dewasa.
4.
Kemampuan belajar manusia dibagi dua, yaitu;
anak usia prasekolah, disebut sebagai usia prakarya dan anak usia sekolah. Pada
usia sekolah inilah memerlukan dukungan orangtua dan keseriusan guru pada saat
mendidik anak tersebut. Untuk itu, sekolah yang maju dan bermutu juga mempunyai
peran dalam suksesi belajar anak.
5.
Fungsi pendidikan
setidaknya dapat menjadikan orang mempunyai kemandirian dalam berpikir. Selain
itu, pendidikan juga dapat merangsang kemampuan yang dimiliki oleh anak.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Abdurrahman
Saleh. 2007. Teori-teori Pendidikan berdasarkan Al-Qur’an. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.
Al-Ghazali, Muhammad. (tt). Ayyuhal Walad.
Surabaya: Al-Hidayah.
Al-Maraghi, Ahmad
Musthofa. (tt). Tafsir Al-Maraghi.
Jilid I. Beirut: Darul Fikr
Ar-Razi. (tt) At-Tafsir al-Kabir aw Mafatihul Ghaib. Kairo:
Maktabah Taufiqiyah.
Ar-Razzaq, Nu’man Abdur.
1984. Mabahits fi Tsaqafah al-Islamiyah. Riyadh: Maktabah al-Ma’arif.
Az-Zanuji. (tt) Ta’limul
Muta’allim Thariqut Ta’allum. Sumenep: Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.
Basri, Hasan. 2009. Filsafat
Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia.
Brauner, Charles J. and
Burns, Hobert W. 1965. Problem in education and philosophy. Amerika:
Prentice Hall.
Chatib, Munif. 2009. Sekolahnya Manusia. Bandung:
Kaifa Mizan.
Hasan, Maimunah. 2010. PAUD
(Pendidikan Anak Usia Dini). Jogjakarta: Diva Press.
Hurlock, Elizabeth B.
1981. Psikologi Perkembangan. Jakarta:
Erlangga.
Iskandar. 2009. Psikologi
Pendidikan: Sebuah Orientasi Baru. Ciputat: Gaung Persada (GP) Press.
Jauhari, Muhammad Idris.
2005. Generasi Robbi Rodliyya. Surabaya: Pustaka Hikmah Perdana.
---. 2009. Ilmu Jiwa Pendidikan. Sumenep:
Mutiarapress.
---. 2010. Mabadi’
Ilmu Tarbiyah, Juz Awwal. Sumenep: Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.
Lipman, Matthew. 1991. Thinking
in Education. Australia: Cambridge University Press.
Mubin, Cahyani Ani.
2006. Psikologi Perkembangan. Cet I. Ciputat:
Quantum Teaching Ciputat Press Group.
Muhammad, Sayyid. (tt). At-tarbiyah
wa tahdzib. Surabaya: Al-Miftah.
Muthahhari, Murtadha.
2007. Membumikan Kitab Suci Manusia dan Agama. Bandung: Mizan.
NG,
May Mei-Iin dalam Tan, Charlene (Editor). 2008. Philosophical Reflections
for Educators, Singapore: UIC Building.
Salam, Muhammad Abdus.
2006. At-Tarbiyah al-Islamiyah: Al-Ushul
wa Tathbiq. Riyadh: Darun Nasir ad-Dauli.
Syalabi, Ahmad. 1987. Tarbiyah
wat ta’lim fil fikri al-Islami. Kairo: Maktabah Nadhatul Misriyah.
Tafsir, Ahmad. 2010. Filsafat Pendidikan
Islami. Bandung: Rosdakarya.
[1]
Muhammad Abdus Salam al-‘Ajami. At-Tarbiyah
al-Islamiyah: Al-Ushul wa Tathbiq. Riyadh: Darun Nasir ad-Dauli, 2006, Hlm,
24
[2] Nu’man Abdur Ar-Razzaq. Mabahits fi
Tsaqafah al-Islamiyah. Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, 1984. Hlm. 17
[3] Ar-Razi. At-Tafsir al-Kabir aw Mafatihul
Ghaib. Kairo: Maktabah Taufiqiyah, tt jilid 16 Juz 32 hal 182
[4] Fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah. Manusia
diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada
manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak
beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.
[5]
Abdurrahman Saleh Abdullah. Teori-teori Pendidikan berdasarkan Al-Qur’an. Jakarta:
PT. Rineka Cipta, 2007. Hlm. 56-57
[6]
Murtadha Muthahhari. Membumikan Kitab Suci Manusia dan Agama. Bandung:
Mizan, 2007. Hlm 52
[7]
Ahmad Musthofa Al-Maraghi. Tafsir
Al-Maraghi. Jilid I. Beirut: Darul Fikr, t.t, hlm 35
[8]
Hasan Basri. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia, 2009.
Hlm 31-32
[9]
Az-Zanuji. Ta’limul Muta’allim Thariqut Ta’allum. Sumenep: Pondok
Pesantren Al-Amien Prenduan. tt. Hlm 25
[10] Sayyid Muhammad. At-tarbiyah wa
tahdzib. Surabaya: Al-Miftah, tt. Hlm. 3
[11]
Hasan Basri. Ibid Hlm 31
[12]
Mubin Cahyani Ani. Psikologi
Perkembangan. Cet I. Ciputat: Quantum Teaching Ciputat Press Group, 2006,
hlm. 22
[13]
Muhammad Idris Jauhari. Ilmu Jiwa Pendidikan. Sumenep: Mutiarapress,
2009, hlm. 32
[14]
Ibid, hlm. 33-35
[15]
Iskandar. Psikologi Pendidikan: Sebuah Orientasi Baru. Ciputat: Gaung
Persada (GP) Press, 2009. Hlm. 36-48
[16]
Elizabeth B. Hurlock. Psikologi
Perkembangan. Jakarta: Erlangga, 1981 hlm 24
[17]
Muhammad Idris Jauhari. Generasi Robbi Rodliyya. Surabaya: Pustaka
Hikmah Perdana, 2005. Hlm. 103-104
[19]
Ahmad Tafsir. Filsafat Pendidikan Islami. Bandung: Rosdakarya, 2010.
Hlm. 7
[20]
Maimunah Hasan. PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Jogjakarta: Diva
Press, 2010, Hlm. 29-30
[21]
Ibid Hlm. 266
[22]
Munif Chatib. Sekolahnya Manusia. Bandung: Kaifa Mizan, 2009. Hlm 4
[23]
Ibid. Hlm 148
[24] Ahmad Syalabi. Tarbiyah wat ta’lim
fil fikri al-Islami. Kairo: Maktabah Nadhatul Misriyah, 1987, hlm. 213
[25] Muhammad Idris Jauhari. Mabadi’ Ilmu
Tarbiyah, Juz Awwal. Sumenep: Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, 2010. Hlm
9-10
[26]
Abdurrahman Saleh Abdullah. Ibid Hlm. 45
[27] May Mei-Iin NG, dalam
Charlene Tan (Editor), Philosophical Reflections for Educators,
Singapore: UIC Building 2008, hlm 63
[28] Charles J. Brauner and Hobert W. Burns. Problem
in education and philosophy. Amerika: Prentice Hall, 1965, hlm. 15
[29] Matthew Lipman. Thinking in Education.
Australia: Cambridge University Press, 1991, hlm. 14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar