Sabtu, 14 Juli 2012

MANUSIA DAN PENDIDIKAN



Iwan Kuswandi

Abstraks:
Hubungan Islam dan Barat juga kita temukan dalam pembahasan fithrah manusia. Banyak ulama Islam yang menukil ayat al-Qur’an untuk membicarakan makna fithrah manusia. Namun di dunia Barat kita juga menemukan sosok John Locke yang menghasilkan ide tabularasa. Salah satu firman Allah dalam Al-Qur’an tentang fitrah manusia terdapat pada QS. Ar-Rum ayat 30. Ada tiga dasar utama yang melandasi periodisasi kehidupan manusia. Adapun pembahasan pada makalah ini hanya menguraikan tentang periodesasi perkembangan manusia, yaitu dari masa anak, remaja sampai dewasa. Kemampuan belajar manusia dibagi dua, yaitu; anak usia prasekolah, disebut sebagai usia prakarya dan anak usia sekolah. Pada usia sekolah inilah memerlukan dukungan orangtua dan keseriusan guru pada saat mendidik anak tersebut. Untuk itu, sekolah yang maju dan bermutu juga mempunyai peran dalam suksesi belajar anak.

A.  Pendahuluan
     Sebagai salah satu makhluk ciptaan Allah yang dimuliakan oleh-Nya, manusia perlu kiranya mengkaji faktor-faktor internal dalam dirinya. Ia perlu merenungi hakikat yang sebenarnya terdapat dalam dirinya sendiri. Sehingga ia tidak dapat disamakan dengan makhluk-makhluk Allah yang lain. Dan kelebihan yang dimiliki oleh manusia ini telah ada sejak ia berada dalam rahim ibunya. Salah satu kelebihan Allah yang diberikan kepada manusia sejak ia berada dalam kandungan ibunya adalah fithrah.
     Namun, fithrah atau naluri yang dimiliki manusia ini tidak akan dapat dimaksimalkan tanpa bantuan dari orang lain yang berada dalam lingkungannya. Maka kiranya semua potensi yang ada dalam diri manusia tidak akan dapat dimaksimalkan dengan baik tanpa ada bantuan orang-orang dari luar dirinya. Potensi adalah internal dan bantuan pengoptimalannya adalah eksternal. Lingkungan sekitar merupakan hal eksternal yang paling menentukan, terutama hal eksternal yang dimaksud adalah pendidikan. Menurut defenisi John Dewey, bahwasanya pendidikan adalah kehidupan manusia itu sendiri, bukan hanya sekedar persiapan untuk kehidupan masa depannya. Pendidikan akan selalu bersanding dengan kehidupan manusia dan tidak akan berhenti, karena masyarakat akan selalu berkembang dan dinamis.[1]
    
B.  Pembahasan
1.      Fitrah manusia
       Sungguh besar karunia yang diberikan Allah kepada makhluk-makhlukNya. Namun di antara nikmat-nikmat yang ada, nikmat terbesar diberikan oleh Allah kepada manusia. Sebab al-Qur’an banyak menjelaskan bahwa manusia diberikan oleh Allah kemampuan dasar dan keunggulan yang lebih banyak dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dan diantara kelebihan-kelebihan yang diberikan oleh kepada manusia, yang paling utama adalah fithrah.
       Allah menciptakan manusia dalam keadaan fithrah, ia dilahirkan dalam keadaan yang shaleh dan salim. Bahkan sejak ia dalam rahim ibunya, Allah sudah membekalinya dengan ketakwaan yang tinggi. Beberapa ulama memaknai fithrah dengan makna yang berbeda-beda. Namun memaknai fithrah sebagai kemampuan yang dimiliki oleh seorang manusia yang berkaitan dengan kemampuannya dalam membedakan hal yang baik dan buruk. Singkatnya, sejak kecil, manusia sudah memiliki kepekaan dan pemahaman yang mendalam tentang mana yang baik dan buruk. Sehingga tidak ada alasan bagi seorang manusia untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran dengan mengatasnamakan ketidaktahuan. Sebab oleh Allah SWT, menurut DR. Nu’man Abdur Ar-Razzaq, manusia sudah diberikan kemampuan untuk membedakan hal yang baik dan buruk [2]
       Mengenai kemampuan manusia dalam membedakan hal yang baik dan buruk ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Balad ayat 10, yang artinya: “Dan kami Telah menunjukkan kepadanya dua jalan (yang dimaksud dengan dua jalan ialah jalan kebajikan dan jalan kejahatan).”
Oleh Ar-Razi, ayat tersebut ia takwilkan bahwasanya jalan baik dan buruk itu pada dasarnya sudah dapat dibedakan dengan jelas. Tanpa mempelajarinya pun manusia sudah mengetahui tentang mana yang baik dan buruk. Perbedaan cukup jelas dan tampak. Perbedaan antara keduanya bukanlah hal yang samar. Bahkan perbedaan antara keduanya sudah dapat dirasakan oleh manusia karena adanya fithrah dalam dirinya.
Kejelasan perbedaan antara kebaikan dan keburukan oleh Ar-Razi diibaratkan jalan setapak yang tinggi [3]. Bukankah jalan yang tinggi dapat kita lihat dengan jelas dalam keadaan sejauh apapun? Bukankah kebesaran dan ketinggian gunung menjadi hal yang sangat jelas di pelupuk mata? Begitulah kebaikan, ia menjadi hal yang sangat jelas bagi kita. Pun dengan keburukan. Sehingga akan sangat lucu jika banyak manusia yang menjadikan ketidaktahuan sebagai alasan dari perbuatan-perbuatan buruk yang ia lakukan. Juga kebaikan-kebaikan yang enggan ia kerjakan.
Pembahasan di atas memaparkan pendapat DR. Nu’man Ar-Razzaq bahwa fithrah bermakna kepekaan dan kemampuan manusia untuk membedakan hal yang baik dan  buruk. Dan kali ini, kita akan mencoba untuk menguak fakta lain mengenai fithrah yang diungkapkan oleh ulama lainnya.
Ulama lain memaknai fithrah sebagai agama. Dalam artian, sejak manusia dilahirkan di bumi ini. mereka sudah memiliki naluri untuk beragama. Tergantung bagaimana manusia mengondisikannya. Jika ia dalam lingkungan dan kawasan orang-orang Islam, maka dia akan menjadi orang muslim, sebaiknya jika ia hidup bersama orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi, Budha, Hindu dan lain-lainnya. Maka atas agama itulah mereka nantinya akan berpegang. 
Mengenai argumen yang berpedoman bahwa fithrah manusia adalah naluri beragama, kita bisa melirik kembali pada salah satu ayat Al-Qur’an. QS. Ar-Rum ayat 30, yang artinya:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”[4]

       Firman Allah di atas menunjukkan bahwa sejak dilahirkan, manusia sudah memiliki fithrah yang benar. Manusia telah memiliki naluri beragama yang Allah ciptakan dalam dirinya. Ia dilahirkan dengan naluri agama yang lurus yang Allah jadikan agama itu sebagai fitrah dalam dirinya. Sehingga dari sini telah jelas bahwa antara agama dan fithrah manusia terdapat hubungan yang jelas. Fithrah dan agama adalah dwi tunggal yang tidak dapat dipisahkan.[5]
Sebab naluri beragama yang ada dalam diri manusia itu akan selalu membuka diri terhadap agama yang ada –agama tauhid. Sehingga jika dianalogikan, naluri beragama adalah wadah dan agama adalah isinya. Dalam diri manusia, wadah itu telah ada sehingga manusia tinggal menerima isinya. Jika ia diisi dengan agama Islam, maka dia akan Islam. Jika ia diisi dengan agam Yahudi, maka ia akan Yahudi. Jika ia diisi dengan Nasrani maka ia akan menjadi seorang Nasrani. Dan lain sebagainya.
Sehingga dalam usia yang masih kecil, atau bahkan ketika manusia masih berada dalam rahim ibunya, ia sudah mendapatkan fithrah itu. Dalam dirinya telah diciptakan oleh Allah sebuah naluri yang kuat untuk beragama.  
Tentang hal ini, dapatlah kita tahu bahwa sesungguhnya kehidupan beragama adalah kehidupan yang normal dan sesuai dengan hukum Allah. Sebab sejak lahir, manusia telah diciptakan Allah dengan naluri beragama dalam dirinya. Sehingga agama menjadi sebuah kebutuhan ruhani dalam diri manusia yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Dan teori tersebut – tentang kebutuhan manusia akan agama, telah dipaparkan oleh agama Islam 14 abad yang lalu dalam kitab suci yang diturunkan oleh Allah kepada Sang Rasul Muhammad SAW, bahkan Islamlah agama pertama kali yang mengikrarkan agama sebagai kebutuhan fithrah manusia. [6]
Potensi yang ada dalam diri manusia amatlah beragam. Akan tetapi potensi yang dimiliki oleh manusia, sangat ditentukan oleh hidayah dari Allah. Sebagaimana Al-Maraghi memaknai hidayah sebagai petunjuk untuk sampai apa yang diinginkan. Dalam hal ini, dia membaginya ke dalam empat bagian:
Pertama, hidayah ilham. Potensi ini berkaitan perasaan dan naluri dalam manusia serta kaitannya terhadap kebutuhannya dalam hidup. Mudahnya, sejak manusia dilahirkan di muka bumi ini. Mereka memiliki naluri untuk selalu memenuhi kebutuhan hidup mereka. Bahkan bayi yang lemah dan tak berdaya itu memiliki cara sendiri untuk memenuhi kebutuhan makan dan minumnya. Yaitu dengan menangis dan menjerit. Itulah bukti bahwa manusia, sejak ia dilahirkan memiliki naluri untuk selalu memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kedua, hidayah indera. Hidayah ilham (naluri untuk memenuhi kebutuhan) dengan hidayah indera adalah dua hidayah yang tidak hanya dimiliki oleh manusia. Kedua hidayah ini juga dimiliki oleh hewan. Bahkan yang dimiliki oleh hewan lebih sempurna daripada yang dimiliki oleh manusia sendiri. Tapi demikian, ada dua hidayah lain yang dimiliki oleh manusia tapi tidak dimiliki oleh hewan. Karena dengan dua potensi itu saja, manusia tidak akan mampu mengarungi samudera kehidupan yang penuh tantangan ini. Mari kita bahas potensi manusia selanjutnya.
Ketiga, adalah hidayah akal . potensi inilah yang tidak dimiliki oleh hewan dan hanya dimiliki oleh manusia. Potensi akal, seperti dijelaskan dalam tafsir Al-Maraghi adalah lebih tinggi tingkatannya dibandingkan potensi ilham dan indera. Karena seringkali indera salah dalam menerima sesuatu sehingga akallah yang meluruskan. Tentang hal ini kita perlu mengambil contoh dari kayu yang lurus dan dicelupkan ke dalam air. Dari dalam air tersebut, indera kita menerima bahwa kayu tersebut bengkok dan tidak lurus. Sehingga dari sini kita tahu bahwa apa yang diterima oleh indera adalah salah, sehingga akal perlu meluruskannya. Bukankah kayu yang bengkok hanyalah hasil dari pembiasan. Sedang yang asli ia adalah sebuah kayu yang lurus? Demikianlah.
Keempat, hidayah terakhir adalah hidayah beragama dan bersyariat. Inilah hidayah teragung yang diberikan oleh Allah kepada umat manusia. Hidayah ini menjadi hal yang wajib bagi siapa saja yang hawa nafsunya telah merenggut kesehatan akalnya (mereka yang lebih menuhankan nafsu daripada akal). Hidayah ini menjadi hal yang lazim bagi mereka yang telah tunduk kepada hawa nafsu dan syahwat yang menipu. Hidayah ini pun menjadi barang yang harus bagi mereka yang menempuh jalan-jalan kesesatan dan dosa. Sehingga dengan adanya hidayah ini mereka nanti pada akhirnya akan terbuka hatinya terhadap syariat-syariat dalam agama. Sehingga ia nantinya sadar bahwa sehabis usainya kehidupan di dunia ini, akan tampak dan akan dibuka kehidupan baru yang lebih nyata. Yaitu alam akhirat.[7]
Sedangkan menurut Hasan Basri, manusia diberikan oleh Allah tiga potensi dalam dirinya. Potensi-potensi itu menjalankan fungsinya masing-masing. Berikut akan dipaparkan potensi-potensi tersebut. Pertama, potensi akal. Potensi akal adalah salah satu potensi yang dimi liki manusia yang dengannya ia dapat mengenal Tuhannya. Potensi ini sudah diberikan oleh Allah sejak ia berada dalam rahimnya. Sehingga disimpulkan bahwa sejak manusia berada dalam rahim ibunya, Allah telah memberikan dalam dirinya sebuah kemampuan untuk mengenal Tuhan, mengesakan Tuhan, mencintai Tuhan bahkan mematuhi Tuhan. Sehingga potensi tersebut, jika tidak dioptimalkan –ketika ia lahir, maka akan menjadi sia-sia. Bukankah setiap potensi harus dioptimalkan?.
Sehingga dapat diketahui, bahwa kemampuan internal (naluri untuk mengenal Tuhan) itu tidak akan dapat tersalurkan dengan baik jika dalam realitanya tidak ada pihak-pihak yang berupaya untuk mengoptimalkan potensi itu. Sehingga dalam hal ini, manusia (seorang bayi) memerlukan unsur ekseternal, yang dalam hal ini merupakan orang-orang yang selalu berusaha untuk menuntun dia dalam optimalisasi potensi akal yang ia miliki.
Kedua, potensi syahwat. Sebagai satu di antara makhluk-makhluk Allah, manusia tentu memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi dalam hidupnya. Maka adanya potensi syahwat dalam diri manusia akan menjadikan manusia sebagai makhluk yang dinamis dan selalu bergerak untuk memenuhi kebutuhannya. Manusia bukan makhluk statis yang hanya diam tanpa gerak ketika ia membutuhkan sesuatu. Namun meski demikian, penyaluran hasrat untuk memenuhi kebutuhan juga harus diarahkan sebaik mungkin. Sehingga manusia tidak melulu dikuasai oleh potensi syahwat saja.
Maka potensi syahwat yang telah ada dalam diri manusia, -layaknya potensi akal, juga membutuhkan bimbingan dan tuntunan agar kebutuhan yang dipenuhi cukup dan tidak melewati koridor yang telah ditentukan. Sehingga dalam hal ini, untuk kesekian kalinya seorang manusia (bayi) membutuhkan unsur eksternal yang akan selalu membantu dia untuk menyalurkan potensi syahwat pada hal-hal yang baik saja.
Ketiga, potensi gadhab. Potensi ini adalah berupa kepekaan dan kecenderungan manusia untuk selalu menjauhi dirinnya dan melindungi dirinya dari hal-hal yang selalu membahayakan dirinya. Semua manusia tentu tidak ingin celaka, ia tentu ingin selalu selamat dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Dan salah satu hal yang menggerakkan dia untuk selalu menyelematkan diri adalah potensi gadhab ini. Potensi gadhab ini akan  menjadikan dia memiliki naluri untuk selalu menjaga diri dari hal-hal yang membahayakan dirinya.
Untuk potensi ketiga ini, yaitu potensi gadhab, manusia juga tidak seharusnya dilepaskan begitu saja dari tuntunan orang-orang di sekitarnya. Sebab banyak orang yang kurang diarahkan dan kurang mendapatkan bimbingan dari orang tuanya sehingga ia kerapkali kurang optimal dalam memanfaatkan potensi gadhab yang dimilikinya. Sehingga pada akhirnya ia sudah tidak sayang dan enggan untuk melindungi dirinya dari hal-hal yang membahayakan dirinya. Semisal mengonsumi narkotika, minum-minuman keras, atau memakan babi. Semua pekerjaan itu tidak akan melindungi dirinya dan justru akan menjerumuskan dirinya. Dan tentu orang-orang yang melakukan pekerjaan tersebut bisa dipastikan bahwa potensi gadhab dalam dirinya tidak dioptimalkan dengan baik oleh orang-orang di sekitarnya semasa ia masih kecil dulu.
Dan dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa setelah manusia lahir ke dunia, maka perlu bantuan dari luar dirinya, agar ketiga potensi tersebut dapat teraktualisasi dengan baik. Dalam filsafat Islam, orang tualah yang berkewajiban untuk memberikan pengetahuan serta mengoptimalkan ketiga potensi di atas.[8] Hal ini sesuai dengan Sabda Nabi, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR. Bukhari)[9]
Berdasarkan paparan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa potensi-potensi yang dimiliki oleh manusia ini tidak bisa dilepaskan dari unsur-unsur eksternal. Karena tanpa adanya unsur eksternal, maka unsur internal itu tidak akan bisa dioptimalkan dengan baik. Maka manusia sejujurnya adalah makhluk yang membutuhkan sekelilingnya. Seperti halnya seorang bayi butuh ibunya. Tanpa sang ibu, bayi tersebut tentu akan kesulitan untuk mengoptimalkan potensi-potensi dalam dirinya.
Maka dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa keberhasilan dalam mengoptimalkan potensi-potensi dalam diri manusia tidak bisa dilepaskan dari unsur eksternal yang menjadi penanda bahwa manusia adalah makhluk sosial. Dari sini, kita tahu bahwa sejak kecil manusia selalu bergantung pada sekelilingnya. Sehingga jelas sudah, bahwa manusia adalah makhluk sosial.
Maka dikaitkan dengan unsur sosial, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwasanya fithrah manusia adalah makhluk yang sangat membutuhkan interaksi serta memerlukan hubungan dengan manusia lainnya. Hal ini karena diyakini bahwasanya manusia tidak mungkin mampu untuk memenuhi segala kebutuhannya dengan kemampuan dirinya sendiri, terutama yang dibutuhkan untuk keberlangsungan hidupnya, seperti; kebutuhan papan, sandang dan pangan.[10] Karena itu, manusia harus menyadari bahwasanya potensi yang dimilikinya tidak sempurna. Tetapi memiliki keterbatasan atas apa yang dimilikinya. Sehingga manusia selalu membutuhkan bantuan dan pertolongan dari orang lain dalam upaya pemenuhan semua kebutuhannya. Keadaan ini menyadarkan bahwa manusia merupakan makhluk sosial.
2.      Manusia menurut filsafat pendidikan Islam
       Teori mengenai fithrah manusia yang dijelaskan dalam surat Ar-Rum, ayat 30 sangat sesuai dengan filsafat yang dikemukakan oleh John Locke (1632-1704). John Locke merupakan salah seorang filosof yang menganut paham empirisme. Ia berkeyakinan dan berpedoman bahwa watak dalam diri manusia sangat ditentukan oleh faktor-faktor eksternal yang berada di luar diri mereka.
       Empirisme yang dianut oleh John Locke ini menjelaskan bahwa manusia yang terlahir di dunia adalah sosok yang sepenuhnya suci. Ia bersih dan putih, sehingga gampang “kotor dan berwarna”, dalam artian ia akan gampang terpengaruh oleh lingkungan tempat dia hidup. Sehingga baik tidaknya seorang anak itu sangat ditentukan oleh sekelilingnya. Baik tidaknya seorang manusia sangat berpatok pada bagaimana orang-orang sekitarnya mewarnai dirinya. Konsep yang demikian biasa disebut dengan Tabu Larasa. Menurut John Locke, manusia yang dilahirkan di muka bumi ini bisa diibaratkan dengan kertas putih. Kertas yang putih itu akan berwarna berdasarkan warna yang diberikan oleh sekelilingnya. Maka kiranya, pengalaman-pengalaman hidup yang dialami oleh manusia, baik bersama ibu, ayah, kawan-kawan bahkan musuhnya adalah faktor eksternal yang akan “mewarnai” dirinya.
        Menurutnya, manusia memiliki dua pengalaman: pengalaman lahiriah (sensation) dan pengalaman batiniah (reflection). Kedua sumber pengalaman itu akan memengaruhi jiwa seorang manusia. Lebih jelasnya, “akan mewarnai” pola pikirnya. Sebab, kekuatan faktor eksternal dalam membentuk karakter dalam diri seseorang lebih kuat dari pada faktor internalnya. Tentang hal ini, kita bisa melihat banyak contoh. Misalnya, banyak orang yang wataknya baik. Sejak kecil ia dikenal baik, karena unsur internal dalam dirinya baik. Ia juga dilahirkan dari keluarga yang baik. Namun ketika dewasa dan menginjak remaja, ia tiba-tiba menjadi sosok yang brutal dan anarkis. Ternyata seteleh diselidiki, didapat sebuah kesimpulan bahwa faktor eksternal dari luar diri orang tersebut telah mengalahkan unsur internal dalam dirinya.
       Kanyataan ini menjadikan kita semakin tahu bahwa unsur internal bersifat pasif, oleh sebab pengaruhnya bagi perkembangan watak manusia sangatlah kecil, berbeda dengan unsur eksternal yang memiliki pengaruh yang kuat dalam membentuk kepribadian seseorang.[11] Hal ini senada dengan ajaran filsafat Pendidikan Islam bahwasanya, orangtua – yang tak lain adalah faktor eksternal, adalah sosok yang menggoreskan tulisan di atas lembaran putih buah hati yang ia lahirkan
        Dari sini, maka tak salah jika Rasulullah mengatakan bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Sebab ibu adalah faktor eksternal pertama yang paling sering menjaga serta menjalin komunikasi bersama buah hatinya. Sehingga, bisa diperkirakan jika sang ibu baik, maka anaknya pun akan baik. Sebaliknya jika sang ibu jelek, maka anaknya pun akan berakhlak jelek. 
3.      Perkembangan manusia
Perkembangan adalah suatu proses perubahan pada seseorang ke arah yang lebih maju dan lebih dewasa.[12] Begitu juga dengan perkembangan manusia. Secara garis besar, ada tiga dasar utama yang melandasi periodisasi kehidupan manusia. Pertama, bersadar perkembangan raga (biologis). Kedua, berdasar perkembangan Jiwa (psikologis) dan Ketiga, berdasar cara menyikapinya (didaktis).[13] Adapun pembahasan kali ini akan menguraikan tentang periodesasi perkembangan manusia, yaitu dari masa anak, remaja sampai dewasa.
a.       Masa Anak
Menurut Aristoteles, manusia secara biologis, ia akan memasuki fase anak, ketika ia baru lahir sampai ia berumur 14 tahun, yaitu pada saat kalenjar-kalenjar kelaminnya sudah mulai aktif bekerja. Sedangkan perkembangan secara psikologis, seseorang dianggap anak-anak, ketika ia baru lahir sampai masa sekolah dasar. [14]
Setiap manusia yang memasuki fase anak akan memiliki kemampuan berbahasa. Hal ini merupakan kemampuan alamiah yang mesti dimiliki oleh setiap anak. Pada masa anak inilah, pengenalan bahasa perlu ditanamkan dan dipraktikkan dengan baik, karena hal ini merupakan modal utama menghadapi masa remaja mereka.
b.      Masa Remaja
Menurut Syamsu Yusuf yang dikutip Iskandar, bahwasanya perkembangan individu secara didaktis, ia akan memasuki masa remaja apabila sudah menginjak usia jenjang pendidikan menengah dan masa usia jenjang pendidikan tinggi.[15]
Pada usia remaja inilah, ada perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan. Hal ini sesuai dengan apa yang diutarakan oleh Alizabeth B. Hurlock, bahwasanya anak remaja yang sudah memasuki sekolah SMA, ia akan memikirkan masa depan mereka secara sungguh-sungguh. Dalam hal pekerjaan, anak laki-laki lebih sungguh-sungguh dibanding dengan anak perempuan, karena anak perempuan seringkali memandang pekerjaan hanya sebatas mengisi kekosongan waktu saja sebelum mereka menikah.[16]
c.       Masa Dewasa
Dalam Islam, umur manusia dianggap matang dan dewasa, kalau sudah umur 40 tahun. Hal ini dapat dikaji dalam sejarah hidup Nabi Muhammad, beliau menerima tugas kenabian ketika berusia 40 tahun. Bahkan al-Qur’an mengabadikan bahwa puncak kedewaan seseorang ketika dia berumur 40 tahun, tentang ini kita dapat menemukannnya dalam surat al-Ahqaaf  ayat 15, yang artinya:
“Sehingga apabila dia Telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah Aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang Telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya Aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya Aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang berserah diri".

Untuk itu, seseorang yang sudah berumur 40 tahun dan sudah dewasa, sebaiknya ia selalu berusaha menjadi dan memberi contoh yang baik dalam belajar dan beribadah, bahkan pada usia inilah manusia diharapkan untuk selalu menambah kualitas dan intensitasnya dalam berdoa.[17] Bahkan al-Ghazali dalam sebuah kitabnya menjelaskan tentang hadits Nabi Muhammad yang berisi bahwasanya, jika manusia sudah sampai pada usia 40 tahun, tetapi kejelekannya mengalahkan kebaikannya, maka besiap-siaplah dia untuk masuk neraka.[18]
4.      Kemampuan belajar manusia
Sebelum membahas lebih jauh tentang kemampuan belajar manusia. Perlu kiranya mengingat kalimat yang sangat mendasar dari seorang filosof Yunani, Socrates. Ia mengatakan bahwa belajar yang sebenarnya ialah belajar tentang manusia.[19] Pembahasan ini akan membahas tentang kemampuan belajar manusia, yang penulis bagi ke dua bagian besar. Masa prasekolah dan masa sekolah (tidak dibagi sesuai dengan pembagian perkembangan manusia seperti uraian di atas).
Setelah mengetahui pembagian perkembangan manusia. Untuk itu, pembahasan ini akan dimulai dari usia anak pada lima tahun pertama, yang disebut The Golden Years. Pada usia inilah, seorang anak memiliki potensi yang besar untuk berkembang. Pada usia ini pulalah, 90% dari fisik otak anak sudah terbentuk. Untuk itu, seorang yang berada di lingkungan anak yang sedang memasuki masa emas ini, harus ikut serta mengarahkan dan mengoptimalkan agar kemampuan yang dimiliki oleh seorang anak pada usia tersebut bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk perkembangan mereka. Hal ini tentunya yang paling besar perannya dalam rangka pengoptimalan pengembangan anak pada usia lima tahun pertama adalah peran kedua orangtua.[20]
Anak usia prasekolah, disebut sebagai usia prakarya. Setiap hari, bahan apa saja bisa menjadi sarananya menuangkan kreativitas. Misalnya, jika anak gemar melukis layaknya “Sang Maestro”, maka semua tumpukan kertas kosong bisa disulap menjadi karya dengan kreativitas tinggi. Demikian juga dinding-dinding (tembok) yang bisa terjangkau oleh si kecil, menjadi media kreativitasnya.[21]  
Pendidikan dalam arti sempit, banyak orang mengindentikkan dengan dunia persekolahan. Pendidikan terbaik merupakan suatu hal yang banyak diimpikan oleh banyak orang, berbagai cara dan upaya banyak dilakukan untuk mencapai impian tersebut. Sebagian besar dari orang tua dan bahkan pelaku akademis itu sendiri bisa melakukan apa pun untuk mewujudkan keinginannya untuk bisa mengeyam pendidikan yang terbaik. Munif Chatib memberikan ilustrasi bahwa pemilihan sekolah untuk anak yang dilakukan oleh orangtua ibarat orang masuk ke toko swalayan dan ingin membeli sesuatu. Pasti, yang pertama-tama dilihat oleh konsumen adalah bungkusnya, menarik atau tidak. Setelah tertarik pada bungkus, baru mereka melihat isinya. Begitu melihat isinya yang luar biasa, pasti mereka akan membeli.[22]
Dari ilustrasi tersebut, berarti tugas utama seorang orangtua, harus benar-benar teliti pada saat memasukkan anaknya ke sebuah sekolah, ia harus mempertimbangkan nama sekolah tersebut, namun yang tak kalah penting, orangtua harus mampu mengukur kualitas dan mutu pada sebuah sekolah yang akan dimasukkan anaknya di dalamnya. Karena berangkat dari ilustrasi di atas pula, maka sebuah sekolah harus segera berbenah diri. Hal ini agar mengundang daya tarik para orangtua murid. Sehingga nantinya akan banyak orangtua yang memasukkan anaknya ke sebuah sekolah yang maju dan bermutu. Bagaimana cara membenahi sebuah sekolah agar dibilang maju dan bermutu? Kunci utamanya terletak pada guru. Sekolah unggul yang menganut konsep “the best process” dapat berhasil apabila didukung oleh kualitas guru yang professional. Menjadi guru yang professional berarti menjadi guru yang tidak pernah berhenti belajar. Asset terbesar dan paling bernilai di sebuah sekolah adalah guru yang berkualitas.[23]
Kalau sudah orangtua serius memilih sekolah untuk anaknya dan guru yang berkualitas yang kemudian mendidik anak tersebut, sehingga dari adanya dua unsur tersebut menjadikan motivasi bagi seorang anak untuk menjadi anak rajin dan baik. Maka tak ayal akan lahir sebuah pendidikan berkualitas. Kalau sudah terjadi semacam ini, barulah pendidikan dan pengajaran dianggap sukses. Dan hal ini sesuai dengan pendapat Az-Zarnuji bahwasanya pendidikan tidak bisa dilepaskan dari kesungguhan dari tiga unsur yaitu; murid, guru dan orang tua.[24]
5.      Fungsi pendidikan dalam kehidupan manusia
       Sebenarnya pendidikan adalah hal paling penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan penting bagi seseorang, karena manusia tidak terlahir dalam keadaan berilmu dan berpendidikan. Untuk itu sudah seharusnya, manusia harus melakukan latihan yang panjang dan belajar yang terus-menerus (berkesinambungan) untuk mencapai hidup yang lebih baik di lingkungan dan masyarakatnya. Pendidikan juga penting bagi masyarakat, karena masyarakat mampunyai peranan penting dalam perkembangan setiap individu dari segala sektornya.[25]
       Manusia adalah hasil dari proses pendidikan.[26] Pendidikan, sebagai proses memanusiakan manusia, tak henti-hentinya menjadi bahan yang terus dikaji dan dikembangkan dalam kehidupan manusia. Pendidikan menurut Peter adalah sebuah upaya membebaskan pikiran dari ketidaktahuan untuk mencapai kemandirian berpikir. Tentunya sudah menjadi rahasia umum, bahwa semua orang dari waktu ke waktu tumbuh berkembang menuju ke suatu titik kedewasaan atau kematangan. Ciri pokok seseorang dianggap memiliki kedewasaan apabila ia sudah memiliki kemandirian berpikir. Karena dari kemandirian berpikir inilah, seseorang akan memiliki kemandirian hidup, ia akan merasa mampu hidup dengan dirinya sendiri, tanpa bergantung kepada orang lain. Inilah sebenarnya yang dimaksud oleh Peter, bahwa pendidikan itu dapat berfungsi sebagai media menuju kemandirian berpikir.[27]
       Di samping itu, pendidikan merupakan proses yang dapat merangsang atau membangunkan kemampuan serta potensi yang ada dalam diri anak. Semua orang tua, tentunya menginginkan anak-anaknya menjadi orang yang berguna, berbakti kepada kedua orang tua, agama dan negara. Merupakan suatu kewajiban bagi orang tua untuk mendidik anak, agar supaya, jika besar nanti, anak tersebut sesuai dengan apa yang di harapkan. Patuh kepada ajaran-ajaran agama dan tidak melanggar hukum atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. Untuk itu, orang tua dituntut agar mampu menggali segala potensi yang dimiliki oleh anaknya, tentunya hal ini dapat ditempuh melalui pendidikan yang baik. [28] 
       Pelaksanaan kegiatan belajar adalah sesuatu yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Dalam kegiatan belajar formal ada dua subjek yang berinteraksi, yaitu pendidik dan peserta didik. Pendidik adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Sedangkan peserta didik adalah orang yang menerima pengetahuan tersebut. Mudahnya, pendidikan adalah transmisi pengetahuan dari orang yang tahu (yang memiliki pengetahuan) kepada orang yang tidak tahu (belum memiliki pengetahuan).[29]
    
C.  Kesimpulan
1.      Fithrah manusia yang diberikan oleh Allah menegaskan bahwasanya manusia memiliki naluri beragama. Di samping itu, fithrah manusia juga memiliki arti dua potensi (baik dan buruk) yang dimiliki oleh manusia. Sehingga dibutuhkan peran orang tua untuk mendidiknya.
2.      Teori mengenai fithrah manusia yang dijelaskan dalam surat Ar-Rum, ayat 30 sangat sesuai dengan filsafat yang dikemukakan oleh John Locke, yang dikenal dengan konsep Tabula Rasa. Menurutnya, manusia memiliki dua pengalaman: pengalaman lahiriah (sensation) dan pengalaman batiniah (reflection).
3.      Ada tiga dasar utama yang melandasi periodisasi kehidupan manusia. Adapun pembahasan pada makalah ini hanya menguraikan tentang periodesasi perkembangan manusia, yaitu dari masa anak, remaja sampai dewasa.
4.      Kemampuan belajar manusia dibagi dua, yaitu; anak usia prasekolah, disebut sebagai usia prakarya dan anak usia sekolah. Pada usia sekolah inilah memerlukan dukungan orangtua dan keseriusan guru pada saat mendidik anak tersebut. Untuk itu, sekolah yang maju dan bermutu juga mempunyai peran dalam suksesi belajar anak.
5.      Fungsi pendidikan setidaknya dapat menjadikan orang mempunyai kemandirian dalam berpikir. Selain itu, pendidikan juga dapat merangsang kemampuan yang dimiliki oleh anak.


DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Abdurrahman Saleh. 2007. Teori-teori Pendidikan berdasarkan Al-Qur’an. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Al-Ghazali, Muhammad. (tt). Ayyuhal Walad. Surabaya: Al-Hidayah.
Al-Maraghi, Ahmad Musthofa. (tt). Tafsir Al-Maraghi. Jilid I. Beirut: Darul Fikr
Ar-Razi. (tt) At-Tafsir al-Kabir aw Mafatihul Ghaib. Kairo: Maktabah Taufiqiyah.
Ar-Razzaq, Nu’man Abdur. 1984. Mabahits fi Tsaqafah al-Islamiyah. Riyadh: Maktabah al-Ma’arif.
Az-Zanuji. (tt) Ta’limul Muta’allim Thariqut Ta’allum. Sumenep: Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.
Basri, Hasan. 2009. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia.
Brauner, Charles J. and Burns, Hobert W. 1965. Problem in education and philosophy. Amerika: Prentice Hall.
Chatib, Munif. 2009. Sekolahnya Manusia. Bandung: Kaifa Mizan.
Hasan, Maimunah. 2010. PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Jogjakarta: Diva Press.
Hurlock, Elizabeth B. 1981. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
Iskandar. 2009. Psikologi Pendidikan: Sebuah Orientasi Baru. Ciputat: Gaung Persada (GP) Press.
Jauhari, Muhammad Idris. 2005. Generasi Robbi Rodliyya. Surabaya: Pustaka Hikmah Perdana.
---. 2009. Ilmu Jiwa Pendidikan. Sumenep: Mutiarapress.
---. 2010. Mabadi’ Ilmu Tarbiyah, Juz Awwal. Sumenep: Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.
Lipman, Matthew. 1991. Thinking in Education. Australia: Cambridge University Press.
Mubin, Cahyani Ani. 2006. Psikologi Perkembangan. Cet I. Ciputat: Quantum Teaching Ciputat Press Group.
Muhammad, Sayyid. (tt). At-tarbiyah wa tahdzib. Surabaya: Al-Miftah.
Muthahhari, Murtadha. 2007. Membumikan Kitab Suci Manusia dan Agama. Bandung: Mizan.
NG, May Mei-Iin dalam Tan, Charlene (Editor). 2008. Philosophical Reflections for Educators, Singapore: UIC Building.
Salam, Muhammad Abdus. 2006. At-Tarbiyah al-Islamiyah: Al-Ushul wa Tathbiq. Riyadh: Darun Nasir ad-Dauli.
Syalabi, Ahmad. 1987. Tarbiyah wat ta’lim fil fikri al-Islami. Kairo: Maktabah Nadhatul Misriyah.
Tafsir, Ahmad. 2010. Filsafat Pendidikan Islami. Bandung: Rosdakarya.


[1] Muhammad Abdus Salam al-‘Ajami. At-Tarbiyah al-Islamiyah: Al-Ushul wa Tathbiq. Riyadh: Darun Nasir ad-Dauli, 2006, Hlm, 24
[2] Nu’man Abdur Ar-Razzaq. Mabahits fi Tsaqafah al-Islamiyah. Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, 1984. Hlm. 17
[3] Ar-Razi. At-Tafsir al-Kabir  aw Mafatihul Ghaib. Kairo: Maktabah Taufiqiyah, tt jilid 16 Juz 32 hal 182
[4] Fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.
[5] Abdurrahman Saleh Abdullah. Teori-teori Pendidikan berdasarkan Al-Qur’an. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2007. Hlm. 56-57
[6] Murtadha Muthahhari. Membumikan Kitab Suci Manusia dan Agama. Bandung: Mizan, 2007. Hlm 52
[7] Ahmad Musthofa Al-Maraghi. Tafsir Al-Maraghi. Jilid I. Beirut: Darul Fikr, t.t, hlm 35
[8] Hasan Basri. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia, 2009. Hlm 31-32
[9] Az-Zanuji. Ta’limul Muta’allim Thariqut Ta’allum. Sumenep: Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. tt. Hlm 25
[10] Sayyid Muhammad. At-tarbiyah wa tahdzib. Surabaya: Al-Miftah, tt. Hlm. 3
[11] Hasan Basri. Ibid Hlm 31
[12] Mubin Cahyani Ani. Psikologi Perkembangan. Cet I. Ciputat: Quantum Teaching Ciputat Press Group, 2006, hlm. 22
[13] Muhammad Idris Jauhari. Ilmu Jiwa Pendidikan. Sumenep: Mutiarapress, 2009, hlm. 32
[14] Ibid, hlm. 33-35
[15] Iskandar. Psikologi Pendidikan: Sebuah Orientasi Baru. Ciputat: Gaung Persada (GP) Press, 2009. Hlm. 36-48
[16] Elizabeth B. Hurlock. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga, 1981 hlm 24
[17] Muhammad Idris Jauhari. Generasi Robbi Rodliyya. Surabaya: Pustaka Hikmah Perdana, 2005. Hlm. 103-104
[18] Muhammad Al-Ghazali. Ayyuhal Walad. Surabaya: Al-Hidayah, tt. hlm. 3
[19] Ahmad Tafsir. Filsafat Pendidikan Islami. Bandung: Rosdakarya, 2010. Hlm. 7
[20] Maimunah Hasan. PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Jogjakarta: Diva Press, 2010, Hlm. 29-30
[21] Ibid Hlm. 266
[22] Munif Chatib. Sekolahnya Manusia. Bandung: Kaifa Mizan, 2009. Hlm 4
[23] Ibid. Hlm 148
[24] Ahmad Syalabi. Tarbiyah wat ta’lim fil fikri al-Islami. Kairo: Maktabah Nadhatul Misriyah, 1987, hlm. 213
[25] Muhammad Idris Jauhari. Mabadi’ Ilmu Tarbiyah, Juz Awwal. Sumenep: Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, 2010. Hlm  9-10
[26] Abdurrahman Saleh Abdullah. Ibid Hlm. 45
[27] May Mei-Iin NG, dalam Charlene Tan (Editor), Philosophical Reflections for Educators, Singapore: UIC Building 2008, hlm 63
[28] Charles J. Brauner and Hobert W. Burns. Problem in education and philosophy. Amerika: Prentice Hall, 1965, hlm. 15
[29] Matthew Lipman. Thinking in Education. Australia: Cambridge University Press, 1991, hlm. 14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar